Jawa Pos Radar Lawu - TikTok kembali menghadirkan inovasi dalam memperingati Hari Museum Internasional 2026.
Dengan mengajak generasi muda menjelajahi sejarah melalui pengalaman digital yang interaktif dan mudah diakses.
Melalui program global bertajuk Comes Alive dan Museums Come Alive, TikTok menghadirkan tur virtual eksklusif dari berbagai museum dunia lewat fitur TikTok LIVE.
Inisiatif ini menjadi langkah strategis dalam menghubungkan budaya, edukasi, dan teknologi digital secara lebih dekat dengan masyarakat.
TikTok Ubah Cara Menikmati Museum
Dalam beberapa tahun terakhir, TikTok активно mengubah cara publik menikmati konten budaya.
Mulai dari menghidupkan kembali karya seni klasik dengan sentuhan modern hingga menghadirkan tur museum secara real-time, platform ini berhasil menjangkau audiens global.
Salah satu contoh sukses terlihat dari tur LIVE yang digelar oleh The Metropolitan Museum of Art di New York serta Grand Egyptian Museum di Mesir.
Kedua acara tersebut mampu menarik hampir lima juta penonton di seluruh dunia, membuktikan besarnya minat masyarakat terhadap konten edukatif berbasis digital.
Baca Juga: Upacara Harkitnas 2026 di Museum Kebangkitan Nasional, Bangkitkan Semangat Persatuan Generasi Muda
Program “Museums Come Alive” dan Tur Virtual Global
Program Museums Come Alive yang diluncurkan pada 18 Mei menjadi bagian penting dari kampanye ini.
TikTok menggandeng berbagai institusi budaya untuk menghadirkan akses eksklusif “di balik layar” museum-museum ternama dunia.
Sejumlah museum yang berpartisipasi dalam tur virtual ini antara lain:
- Almaty Museum of Arts di Kazakhstan
- National Museum of Kazakhstan
- Museum of Modern Art
- Abdeen Palace Museum
- Field Museum dengan Pokémon Fossil Museum
Melalui tur ini, pengguna dapat menikmati pengalaman museum secara imersif tanpa harus datang langsung ke lokasi.
Sorotan Lokal: Museum Tekstil Jakarta
Di Indonesia, TikTok juga menggandeng Museum Tekstil Jakarta sebagai bagian dari perayaan Hari Museum Internasional.
Museum ini menjadi contoh bagaimana ruang budaya dapat beradaptasi di era digital.
Melalui konten TikTok, Museum Tekstil memperkenalkan kekayaan wastra Indonesia kepada generasi muda secara lebih menarik dan relevan.
Kegiatan tur ini melibatkan kreator lokal yang aktif mengangkat tema budaya dan sejarah.
Mereka tidak hanya mengeksplorasi koleksi museum, tetapi juga mengikuti aktivitas membatik untuk memahami nilai budaya di baliknya.
Tren #MuseumTok dan Peran Kreator
TikTok juga merilis Museum Insights Report 2026 yang mengungkap tren #MuseumTok sebagai fenomena global.
Salah satu temuan penting adalah meningkatnya minat generasi muda terhadap museum dan sejarah.
Di Indonesia, lebih dari sepertiga pengguna TikTok tertarik pada museum, sementara 51 persen menunjukkan minat pada konten sejarah.
Hal ini menandakan perubahan signifikan dalam cara generasi muda mengakses edukasi budaya.
Menariknya, kreator kini berperan sebagai “kurator baru” yang menjembatani informasi antara institusi budaya dan audiens.
Dengan pendekatan storytelling yang ringan dan autentik, konten sejarah menjadi lebih mudah dipahami dan diminati.
Baca Juga: Museum Kartini, Benteng Portugis, hingga Kandang Rusa: Wisata Edukasi Terpopuler di Jepara
Digitalisasi Buka Akses Budaya Lebih Luas
Kolaborasi antara TikTok, kreator, dan institusi budaya menunjukkan bahwa digitalisasi mampu membuka akses yang lebih luas terhadap warisan sejarah.
Momentum Hari Museum Internasional 2026 ini menjadi bukti bahwa museum tidak lagi terbatas pada ruang fisik, melainkan telah berevolusi menjadi pengalaman digital yang inklusif dan interaktif.
Dengan pendekatan ini, generasi muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga bagian dari pelestarian budaya di era modern.(*)
*Nizaria Kusumatuti, Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya
Editor : Mizan Ahsani