Jawa Pos Radar Lawu - Tempe kerap jadi “tersangka” ketika kadar asam urat meningkat.
Tak sedikit orang langsung menghindari makanan berbahan kedelai ini karena dianggap tinggi purin dan memicu nyeri sendi. Namun, benarkah tempe seburuk itu bagi penderita asam urat?
Di sisi lain, tempe dikenal sebagai sumber protein nabati kaya gizi yang sudah lama menjadi bagian penting pola makan masyarakat Indonesia.
Lalu, bagaimana sebenarnya hubungan konsumsi tempe dengan risiko asam urat?
Benarkah Tempe Memicu Asam Urat?
Anggapan bahwa tempe memicu asam urat berangkat dari fakta bahwa kedelai bahan dasar tempe mengandung purin.
Namun, tidak semua makanan berpurin otomatis meningkatkan risiko asam urat secara signifikan.
Dalam ilmu gizi, makanan diklasifikasikan berdasarkan kadar purinnya. Makanan tinggi purin (lebih dari 200 mg per 100 gram), seperti jeroan, daging merah, dan beberapa jenis seafood, memang terbukti dapat meningkatkan kadar asam urat dalam darah.
Sementara itu, tempe justru termasuk dalam kategori purin rendah hingga sedang.
Artinya, efeknya terhadap peningkatan asam urat jauh lebih kecil dibandingkan sumber purin tinggi dari hewani.
Sejumlah studi epidemiologi juga menunjukkan bahwa purin dari sumber nabati seperti kedelai, kacang-kacangan, dan produk olahannya tidak memiliki hubungan kuat dengan peningkatan risiko asam urat.
Sebaliknya, purin dari hewani lebih konsisten dikaitkan dengan munculnya penyakit ini.
Hal ini disebabkan oleh perbedaan komposisi zat gizi. Makanan nabati umumnya kaya serat, vitamin, dan senyawa bioaktif yang membantu metabolisme tubuh, termasuk dalam pengolahan asam urat.
Baca Juga: Makan Tempe Mentah, Bahaya atau Justru Sehat? Ini Penjelasan Ahlinya!
Proses Fermentasi Membuat Tempe Lebih Sehat
Salah satu faktor penting yang sering diabaikan adalah proses fermentasi pada tempe.
Tempe dibuat melalui fermentasi oleh kapang Rhizopus oligosporus, yang mengubah struktur kedelai menjadi lebih sederhana dan mudah dicerna.
Proses ini tidak hanya meningkatkan daya cerna protein, tetapi juga memengaruhi kandungan purin sehingga efeknya terhadap tubuh berbeda dibandingkan bahan mentahnya.
Pegiat fermentasi pangan, Wida Winarno, menegaskan bahwa tidak ada bukti ilmiah yang menyatakan tempe menyebabkan asam urat.
“Berdasarkan penelitian ilmiah yang ada, tidak terbukti bahwa tempe itu menyebabkan asam urat.
Justru fermentasinya membuat tempe lebih baik untuk kesehatan,” jelasnya.
Selain itu, tempe juga mengandung komponen penting seperti probiotik, prebiotik, dan paraprobiotik.
Bahkan setelah dimasak, tempe tetap memiliki manfaat melalui komponen paraprobiotik yang mendukung sistem imun.
Tempe Tetap Aman, Asal Dikonsumsi dengan Cara Tepat
Berdasarkan penjelasan tersebut, tempe pada dasarnya aman dikonsumsi, termasuk bagi penderita asam urat, selama dalam jumlah wajar.
Cara pengolahan juga berpengaruh pada manfaatnya. Tempe dapat dikonsumsi mentah (dengan memperhatikan kebersihan), dikukus, ditumis, atau digoreng dengan minyak secukupnya.
Tempe mentah mengandung mikroorganisme hidup yang bermanfaat, sementara tempe matang tetap memberikan manfaat kesehatan meskipun sebagian mikroorganisme tidak lagi aktif.
Namun, menggoreng tempe dengan minyak berlebih sebaiknya dihindari karena dapat menambah lemak jenuh yang berdampak kurang baik bagi kesehatan.
Baca Juga: Resep Makanan Kucing Homemade dari Tempe dan Telur, Murah Tapi Tetap Tinggi Protein!
Kesimpulan
Tempe tidak terbukti sebagai penyebab asam urat. Meski mengandung purin, kadar dan efeknya relatif ringan dibandingkan sumber purin dari hewani.
Justru, sebagai sumber protein nabati yang kaya nutrisi dan hasil fermentasi, tempe tetap layak menjadi bagian dari pola makan sehat.
Kuncinya adalah konsumsi dalam jumlah wajar dan pengolahan yang tepat.
Dengan demikian, Anda tidak perlu menghindari tempe sepenuhnya cukup bijak dalam mengonsumsinya.(*)
*Nizaria Kusumastuti, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Mizan Ahsani