Jawa Pos Radar Lawu - Fenomena baru di dunia kerja mulai ramai diperbincangkan, khususnya di kalangan pekerja muda seperti Gen Z dan milenial.
Tren tersebut dikenal dengan istilah job hugging, yaitu kondisi ketika seseorang tetap bertahan di pekerjaannya meskipun tidak merasa bahagia atau puas dengan pekerjaannya.
Istilah ini muncul seiring perubahan kondisi pasar kerja yang semakin tidak pasti.
Banyak pekerja memilih bertahan di tempat kerja saat ini karena khawatir sulit mendapatkan pekerjaan baru di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu.
Para ahli menilai fenomena ini berbeda dengan tren beberapa tahun sebelumnya yang dikenal sebagai job hopping, yaitu kebiasaan berpindah-pindah pekerjaan dalam waktu singkat untuk mendapatkan pengalaman baru atau kenaikan gaji.
Apa Itu Job Hugging?
Secara sederhana, job hugging adalah sikap pekerja yang memilih “memeluk” atau mempertahankan pekerjaannya saat ini, meskipun sebenarnya mereka tidak merasa berkembang atau bahagia.
Bryan E. Robinson, Ph.D., psikoterapis sekaligus profesor emeritus di University of North Carolina, menjelaskan bahwa tren ini muncul karena pekerja merasa bertahan di pekerjaan yang ada lebih aman dibandingkan mengambil risiko pindah kerja.
“Para pekerja, terutama Gen Z, mempertahankan pekerjaan mereka demi keselamatan, bukan karena mereka berkembang pesat, tetapi karena mereka tidak yakin akan masa depan,” tulis Robinson dalam Forbes.
Fenomena ini juga dipicu oleh perlambatan pasar kerja. Pertumbuhan lapangan kerja cenderung melemah dan perekrutan karyawan baru mengalami penurunan signifikan dalam beberapa waktu terakhir.
Nicole Bachaud, ekonom tenaga kerja di ZipRecruiter, menyebut banyak pekerja mulai menyadari ketidakpastian pasar kerja saat ini, sehingga mereka lebih memilih bertahan dalam posisi yang sudah mereka kenal.
Penyebab Munculnya Tren Job Hugging
Ada beberapa faktor yang mendorong munculnya fenomena job hugging di kalangan pekerja muda, antara lain:
1. Ketidakpastian Ekonomi Global
Situasi ekonomi global yang tidak stabil membuat banyak perusahaan lebih berhati-hati dalam merekrut karyawan baru.
Hal ini menyebabkan peluang kerja menjadi lebih terbatas.
2. Gelombang PHK
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) sebagai strategi efisiensi.
Kondisi ini membuat pekerja merasa lebih aman jika tetap bertahan di pekerjaan mereka saat ini.
3. Pertumbuhan Lapangan Kerja Melambat
Pertumbuhan lapangan kerja yang tidak secepat sebelumnya membuat pekerja kesulitan menemukan peluang karier baru.
4. Rasa Aman di Lingkungan Kerja Saat Ini
Banyak pekerja merasa lebih nyaman dengan lingkungan kerja yang sudah dikenal dibandingkan memulai dari awal di perusahaan baru.
Ciri-ciri Seseorang Mengalami Job Hugging
Fenomena job hugging sering kali tidak disadari oleh pekerja itu sendiri.
Berikut beberapa tanda yang bisa menunjukkan seseorang mengalami kondisi ini:
- Menolak mempertimbangkan tawaran pekerjaan baru meskipun tidak puas dengan pekerjaan saat ini.
- Memilih tetap berada di zona nyaman dan menghindari pengembangan keterampilan baru.
- Kurang memiliki inisiatif atau hanya memilih pekerjaan dengan risiko rendah.
- Merasa bosan, frustrasi, atau kehilangan motivasi dalam bekerja.
- Enggan memperluas jaringan profesional atau mencari peluang baru.
Kondisi ini biasanya dipicu oleh rasa takut menghadapi ketidakpastian di luar pekerjaan yang saat ini dimiliki.
Dampak Job Hugging bagi Karier
Meskipun mempertahankan pekerjaan bukanlah hal yang salah, job hugging juga memiliki beberapa dampak negatif, terutama bagi perkembangan karier.
Salah satu risikonya adalah terhambatnya perkembangan keterampilan dan peluang karier.
Jika seseorang terlalu lama berada di zona nyaman tanpa mencoba tantangan baru, perkembangan profesionalnya bisa stagnan.
Selain itu, fenomena ini juga dapat berdampak pada pasar kerja secara keseluruhan.
Jika banyak pekerja memilih bertahan di posisi yang sama dalam waktu lama, peluang bagi lulusan baru untuk masuk ke dunia kerja menjadi semakin terbatas.
Baca Juga: Cara Bikin Konten Viral Tanpa Modal Lewat HP: Dijamin FYP, Trending, dan Auto Cuan!
Cara Tetap Berkembang Meski Bertahan di Pekerjaan
Meski demikian, bertahan di pekerjaan saat ini tidak selalu berarti buruk. Para ahli menyarankan beberapa langkah agar pekerja tetap dapat berkembang, di antaranya:
- Mengidentifikasi bagian pekerjaan yang terasa tidak memuaskan.
- Mengembangkan keterampilan baru yang relevan dengan karier.
- Mencari mentor untuk mendapatkan arahan pengembangan karier.
- Berdiskusi dengan atasan mengenai peluang pengembangan di perusahaan.
Dengan strategi tersebut, pekerja tetap bisa meningkatkan kemampuan dan memperluas peluang karier, meskipun memilih untuk bertahan di tempat kerja yang sama.
Fenomena job hugging kemungkinan akan terus menjadi tren di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Bagi banyak pekerja muda, keputusan bertahan di pekerjaan saat ini dianggap sebagai langkah rasional untuk menjaga stabilitas karier dan keuangan.(*)
*Nizaria Kusumastuti, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Mizan Ahsani