Jawa Pos Radar Lawu - Keputusan Aurelie Moeremans membagikan ebook Broken Strings secara gratis langsung menyita perhatian publik.
Di tengah tren penjualan buku digital, langkah Aurelie justru berlawanan arus.
Ia memilih membuka akses seluas-luasnya kepada pembaca tanpa memungut biaya.
Ternyata, keputusan ini bukan tanpa alasan. Di baliknya, tersimpan niat personal yang kuat, luka masa lalu yang ingin disembuhkan, serta keinginan tulus untuk membantu orang lain.
1. Tidak Ingin Menjual Luka dan Trauma Pribadi
Aurelie secara tegas menyatakan bahwa ia tidak ingin kisah hidupnya dianggap sebagai komoditas.
“Aku tidak mau menjual trauma aku. Buku ini bukan untuk cari uang, tapi untuk berbagi,” ujar Aurelie dalam salah satu pernyataannya.
Ia menyadari bahwa isi Broken Strings sangat personal dan sensitif. Ada kisah pahit, luka emosional, dan pengalaman hidup yang berat. Karena itu, ia merasa tidak pantas jika cerita tersebut diperdagangkan.
Baginya, luka bukan barang dagangan.
2. Ingin Menolong Orang yang Sedang Berjuang dalam Diam
Aurelie mengaku banyak menerima pesan dari orang-orang yang mengalami hubungan tidak sehat, kekerasan emosional, dan tekanan batin. Dari situlah muncul niat untuk berbagi.
“Kalau cerita aku bisa bikin satu orang saja merasa tidak sendirian, itu sudah cukup buat aku,” ungkapnya.
Dengan menggratiskan ebook, Aurelie berharap siapa pun yang membutuhkan bisa membaca tanpa terbebani biaya.
Ia ingin Broken Strings menjadi teman bagi mereka yang sedang lelah, patah, dan kehilangan arah.
3. Bagian dari Proses Penyembuhan Diri
Menulis Broken Strings juga menjadi proses penyembuhan bagi Aurelie sendiri. Ia menumpahkan emosi, luka, dan kenangan pahit ke dalam tulisan.
“Nulis buku ini itu seperti terapi buat aku. Sakit, tapi juga melegakan,” kata Aurelie.
Dengan membagikan ebook secara gratis, ia merasa beban itu tidak hanya dipikul sendiri, tetapi dibagikan sebagai kekuatan untuk orang lain.
4. Mengedukasi tentang Hubungan Tidak Sehat dan Kekerasan Emosional
Aurelie tidak ingin pembaca hanya merasa terharu, tetapi juga belajar. Ia berharap buku ini membuka mata banyak orang tentang tanda-tanda hubungan toksik.
“Aku harap lewat buku ini, orang-orang bisa lebih aware sama red flag dalam hubungan,” ujarnya.
Ia ingin pembaca, terutama perempuan, lebih berani mengenali batasan diri dan keluar dari hubungan yang menyakiti.
5. Supaya Bisa Diakses Semua Kalangan, Tanpa Terkecuali
Aurelie menegaskan bahwa ia ingin semua orang bisa membaca, tanpa terkendala kondisi ekonomi.
“Siapa pun berhak sembuh. Siapa pun berhak dikuatkan,” tuturnya.
Karena itulah, ia memilih format ebook gratis dan bahkan menyediakan versi bahasa Inggris agar bisa dibaca lebih luas, termasuk oleh pembaca internasional.
6. Menolak Komersialisasi dan Penjualan Ilegal
Di tengah viralnya Broken Strings, Aurelie sempat menyampaikan kekecewaan karena ada pihak yang menjual PDF bukunya.
“Tolong jangan diperjualbelikan. Aku bagikan ini gratis karena niatnya berbagi, bukan bisnis,” tegasnya.
Ia meminta pembaca menghargai niat baiknya dan tidak memanfaatkan karyanya untuk keuntungan pribadi.
7. Terharu dengan Dukungan Pembaca
Aurelie mengaku terharu melihat respons publik yang begitu besar. Banyak pembaca mengirim pesan, menceritakan bahwa mereka merasa tersentuh dan dikuatkan.
“Aku nangis baca DM kalian. Ternyata cerita aku bisa berarti buat banyak orang,” tulisnya.
Baginya, inilah “bayaran” terbaik dari sebuah karya: ketika tulisannya mampu menyentuh hati.
Kesimpulan: Berbagi Luka untuk Menjadi Kekuatan
Aurelie Moeremans menggratiskan ebook Broken Strings bukan karena tidak menghargai karyanya, tetapi justru karena ia sangat menghargai makna di baliknya.
Ia tidak ingin trauma dijual, tidak ingin luka dijadikan bisnis, dan tidak ingin cerita hidupnya menjadi alat cari untung.
Sebaliknya, ia memilih berbagi.
Melalui Broken Strings, Aurelie tidak hanya membuka masa lalunya, tetapi juga membuka pintu harapan bagi banyak orang. (*)
Editor : Riana M.