Jawa Pos Radar Lawu - Kalau ngomongin SUV lawas yang masih punya aura jantan, Daihatsu Taruna jelas nggak boleh dilewatin.
Mobil yang satu ini pernah jadi idola di era akhir 90-an sampai awal 2000-an. Meski sekarang statusnya “jadul”, tapi soal ketangguhan dan tampang, Taruna masih bikin banyak orang jatuh cinta.
Desain Kotak, Aura Badak
Taruna punya desain boxy alias kotak-kotak tegas. Sekilas mirip SUV petualang, bikin kesannya kuat dan siap diajak ke mana aja.
Ground clearance tinggi, bodi kekar, cocok banget buat kamu yang suka tampil beda dan anti mobil mainstream.
Mesin Bandel, Nggak Banyak Drama
Soal mesin, Taruna terkenal bandel. Perawatannya gampang, suku cadang masih banyak, dan mesinnya kuat dipakai harian maupun perjalanan jauh. Selama dirawat rutin, mobil ini bisa diajak kerja keras tanpa banyak rewel.
Enak Buat Harian, Mantap Buat Jalan Jelek
Taruna nyaman dipakai harian, tapi nilai plus-nya ada di jalan rusak, tanah, atau berbatu. Suspensinya cukup empuk dan bodinya tahan banting.
Buat kamu yang tinggal di daerah atau sering lewat jalan “uji nyali”, Taruna masih relevan banget.
Gampang Dimodif
Salah satu alasan Taruna masih dicari sampai sekarang: mudah dimodif. Mau dibuat:
Off-road look (ban gede, roof rack, snorkel)
Adventure style
Atau sekadar rapi-rapi harian
Semua masuk! Komunitasnya juga masih hidup, jadi referensi modif gampang dicari.
Harga Bekas Bersahabat
Di pasaran mobil bekas, harga Daihatsu Taruna relatif ramah di kantong. Dengan budget terbatas, kamu sudah bisa dapet SUV tangguh yang tampilannya nggak malu-maluin.
Kelebihan Daihatsu Taruna
Tampang gagah & klasik
Mesin awet dan mudah dirawat
Cocok buat jalan rusak & luar kota
Harga bekas terjangkau
Potensi modif gede
Kekurangannya
Konsumsi BBM nggak seirit LCGC
Interior masih sederhana
Unit bagus mulai agak jarang
Daihatsu Taruna adalah bukti kalau mobil jadul belum tentu kalah kelas. Buat kamu yang pengin SUV tangguh, murah, dan penuh karakter, Taruna masih jadi pilihan masuk akal. Cocok buat pecinta otomotif yang suka gaya old school tapi tetap fungsional.
Editor : Nur Wachid