Jawa Pos Radar Lawu — Kontroversi terkait unggahan University of Oxford tentang penemuan Rafflesia hasseltii di Sumatra kembali melebar setelah Anies Baswedan turut memberikan respons terbuka. Oxford sebelumnya mengunggah pengumuman penemuan tersebut pada 19 November 2025, menyoroti riset yang dipimpin peneliti mereka, Chris Thorogood. Namun unggahan itu tidak mencantumkan tiga ilmuwan Indonesia yang ikut terlibat dalam riset lapangan.
Keputusan Oxford menyebut satu nama saja langsung memicu kritik warganet Indonesia. Banyak yang merasa kontribusi ilmuwan lokal yang selama ini berada di garis depan pengamatan dan penelitian lapangan seolah “dihapus” dari cerita ilmiah. Di tengah derasnya reaksi publik, Anies Baswedan muncul memberikan tanggapan resmi melalui akun Twitter (X) pribadinya.
Pada 23 November 2025, Anies mengunggah pernyataan bernada tegas yang langsung menarik perhatian. Dalam unggahan tersebut, ia menyebut tiga peneliti Indonesia—Joko Witono, Septi Andriki, dan Iswandi, sebagai bagian penting dalam penemuan Rafflesia hasseltii. Ia meminta Oxford untuk juga menyebut nama mereka, bukan hanya peneliti dari institusi mereka sendiri.
Unggahan Anies itu disambut gelombang dukungan. Banyak warganet memuji sikapnya yang dianggap membela martabat dan kontribusi ilmuwan Indonesia dalam penelitian kolaboratif internasional. Respons Anies juga dipandang sebagai dorongan moral agar institusi besar dunia tidak mengabaikan kerja ilmuwan dari negara berkembang.
Tak sedikit yang menganggap kritik Anies sebagai bentuk penolakan terhadap pola “kolonialisme akademik”, di mana kredit penemuan sering kali lebih menonjolkan institusi besar meskipun penelitian dilakukan bersama. Beberapa netizen mengingatkan bahwa tanpa kontribusi ilmuwan lokal, riset lapangan yang memerlukan pengetahuan wilayah dan biodiversitas nasional tak akan berjalan semulus itu.
Meski demikian, tetap ada suara yang lebih moderat. Mereka menilai unggahan Oxford sebenarnya menyebut bahwa penemuan ini dikerjakan oleh “tim”, meski penyebutan nama lengkap tidak dicantumkan. Namun bagi mayoritas publik Indonesia, frasa itu terasa kurang mencerminkan kontribusi besar para ilmuwan lokal.
Hingga kini, belum ada lanjutan pernyataan dari University of Oxford yang secara langsung menanggapi kritik warganet maupun unggahan Anies Baswedan. Di media sosial, perdebatan terus berlangsung, dan topik ini masih menjadi salah satu bahasan paling ramai di Twitter.
Kasus ini menunjukkan bahwa persoalan pengakuan ilmiah bukan hal sepele. Di balik penemuan Rafflesia yang langka, ada kerja keras ilmuwan Indonesia yang patut mendapat tempat sejajar. Unggahan Anies pada 23 November 2025 menjadi pemicu kuat yang mempertegas pentingnya penghargaan tersebut, sekaligus membuka diskusi lebih luas tentang kesetaraan dalam dunia riset internasional. (hamid-mg-uinpo/kid)
Editor : Nur Wachid