Jawa Pos Radar Lawu – Istilah darah manis sudah lama dikenal dalam masyarakat Indonesia.
Biasanya, ungkapan ini digunakan untuk menggambarkan seseorang yang sering digigit nyamuk, memiliki luka yang lama sembuh, atau tampak “disukai” oleh serangga.
Menariknya, banyak yang percaya bahwa pemilik golongan darah O adalah orang-orang yang memiliki darah manis.
Namun, benarkah anggapan tersebut memiliki dasar ilmiah, atau sekadar mitos yang turun-temurun?
Dalam keseharian, banyak orang memperhatikan bahwa seseorang dengan golongan darah O cenderung lebih sering menjadi sasaran nyamuk.
Dari pengalaman itulah muncul istilah bahwa darah mereka “manis”.
Kata “manis” di sini sebenarnya bukan merujuk pada rasa atau kadar gula darah, melainkan lebih kepada penilaian subjektif bahwa tubuh orang tersebut lebih menarik bagi nyamuk atau serangga.
Seiring waktu, kepercayaan ini menyebar luas tanpa disertai penjelasan medis yang jelas. Padahal, dalam dunia kedokteran, istilah “darah manis” tidak dikenal secara ilmiah.
Menurut Penjelasan Medis: Golongan Darah dan Daya Tarik bagi Nyamuk
Beberapa penelitian modern memang menemukan adanya hubungan antara golongan darah dan ketertarikan nyamuk terhadap manusia.
Studi yang diterbitkan dalam Journal of Medical Entomology menyebutkan bahwa nyamuk Aedes aegypti, penyebab demam berdarah, lebih tertarik pada orang bergolongan darah O dibandingkan golongan darah A, B, atau AB.
Hal ini disebabkan oleh perbedaan zat kimia alami yang dikeluarkan melalui kulit, seperti senyawa asam laktat, amonia, serta zat karbon dioksida dari pernapasan.
Senyawa-senyawa ini menjadi “petunjuk” bagi nyamuk dalam mencari mangsa.
Dengan kata lain, darah golongan O tidak benar-benar manis, tetapi menghasilkan aroma tubuh dan komponen kimia tertentu yang lebih mudah terdeteksi oleh nyamuk.
Selain faktor golongan darah, ada pula beberapa kondisi lain yang membuat seseorang tampak memiliki “darah manis”, antara lain:
1. Kadar asam laktat tinggi di kulit biasanya muncul setelah olahraga atau aktivitas fisik berat.
2. Suhu tubuh lebih hangat nyamuk tertarik pada panas tubuh dan keringat.
3. Kadar karbon dioksida tinggi semakin banyak CO₂ yang dikeluarkan melalui napas, semakin mudah nyamuk mendeteksi keberadaan manusia.
4. Kelembapan kulit dan aroma tubuh alami beberapa orang memiliki aroma tubuh yang lebih kuat secara genetik.
Semua faktor ini membuat sebagian orang lebih sering digigit nyamuk, dan akhirnya dicap memiliki “darah manis”.
Meluruskan Mitos “Darah Manis”
Secara medis, tidak ada istilah darah manis. Jika seseorang lebih sering digigit nyamuk, bukan berarti darahnya mengandung gula lebih banyak.
Nyamuk tidak tertarik pada rasa manis, melainkan pada aroma tubuh dan komposisi kimia kulit.
Selain itu, anggapan bahwa darah manis merupakan tanda tubuh sehat atau bersih juga tidak sepenuhnya benar.
Justru dalam beberapa kasus, orang yang memiliki kadar gula darah tinggi (seperti penderita diabetes) bisa mengalami masalah kulit atau luka yang sulit sembuh, bukan karena “darahnya manis”, melainkan karena sirkulasi darah dan sistem kekebalan tubuh yang terganggu.
Jadi, jika kamu termasuk orang yang sering digigit nyamuk, bukan berarti kamu memiliki darah manis.
Kemungkinan besar tubuhmu mengeluarkan aroma dan senyawa yang lebih mudah dideteksi oleh nyamuk.
Untuk mengurangi gigitan, kamu bisa menggunakan losion anti-nyamuk, mengenakan pakaian tertutup saat berada di area rawan, dan menjaga kebersihan lingkungan agar nyamuk tidak berkembang biak. (win)
Editor : Riana M.