Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Rengginang Bogor Tembus Pasar Hongkong! Ibu Yeni Raup Omzet hingga Rp70 Juta per Bulan dari Dapur Rumahan

Sukma Maharani Putri • Senin, 10 November 2025 | 15:35 WIB
Rengginang Bogor Ibu Yeni
Rengginang Bogor Ibu Yeni

Jawa Pos Radar Madiun - Bogor tak hanya dikenal dengan wisata alamnya, tetapi juga kuliner tradisional yang selalu menggugah selera.

Salah satu yang kini mendunia adalah rengginang: camilan gurih dan renyah yang menjadi ikon kuliner Indonesia.

Hebatnya, rengginang buatan seorang ibu rumah tangga di Bogor sudah berhasil menembus pasar internasional hingga Hongkong.

Sosok inspiratif tersebut adalah Ibu Yeni Krisma, pengusaha asal Kampung Anyar, Desa Semplak Barat, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor.

Produk rumahan yang ia kelola kini dikenal dengan merek Fawwaz Snack.

Usaha Turun-Temurun yang Menjadi Berkah Rezeki

Usaha rengginang ini sebenarnya merupakan warisan keluarga yang sudah digeluti selama puluhan tahun.

“Dulu kami hanya produksi banyak kalau ada hari besar. Tapi lima tahun terakhir saya mulai menekuni serius,” ujar Yeni.

Nama Fawwaz Snack dipilih dari bahasa Arab yang berarti pemenang, sebagai doa agar usaha ini membawa keberkahan dan terus berkembang.

Dengan kemasan modern dan rasa autentik, Fawwaz Snack mampu menarik pembeli dari dalam maupun luar negeri.

Langganan Kirim ke Hongkong

Meski belum menjadi eksportir langsung, Ibu Yeni menjadi pemasok utama bagi pedagang yang mengekspor rengginangnya ke Hongkong.

“Saya penyedia barang saja, yang ekspor itu pedagang saya. Kirimnya ke Hongkong,” jelasnya.

Proses ekspor dilakukan mitra dagang, termasuk pengemasan ulang dan pengiriman internasional.

Ibu Yeni memilih fokus pada menjaga kualitas produk ketimbang mengurus administrasi ekspor yang rumit dan membutuhkan modal besar.

Produksi Rengginang Capai Ratusan Bungkus per Hari

Saat menerima pesanan ekspor, Ibu Yeni dibantu delapan karyawan mampu menghasilkan hingga 500 bungkus rengginang terasi dan ketan hitam dalam sebulan.

Untuk pasar lokal, produksinya justru lebih tinggi, yakni sekitar 200 bungkus per hari.

“Kalau untuk ekspor itu sebulan sekali. Tapi kalau di dalam negeri, tiap hari bisa 200 bungkus,” ujarnya.

Omzet Tembus Rp70 Juta per Bulan

Dari dapur rumahnya, Yeni mampu meraih omzet Rp40 juta per bulan, dan bisa mencapai Rp70 juta pada musim ramai pesanan seperti Oktober dan November.

Pencapaian ini menjadi bukti bahwa produk tradisional tak kalah bersaing di pasar global, asalkan dikelola dengan serius, dikemas modern, dan dipasarkan dengan strategi yang tepat.

Rengginang: Cita Rasa Tradisi yang Menjadi Peluang Masa Kini

Keberhasilan Ibu Yeni menunjukkan bahwa kuliner tradisional Indonesia tidak hanya punya nilai budaya, tetapi juga peluang ekonomi yang besar.

Berbekal ketekunan, inovasi rasa, dan pemasaran digital yang efektif, rengginang Bogor kini bisa dinikmati hingga ke Hongkong.

Sebuah bukti bahwa usaha rumahan pun bisa mendunia jika dikerjakan dengan hati. (fin)

Editor : AA Arsyadani
#kuliner #umkm #kuliner bogor