Jawa Pos Radar Lawu - Anggrek dikenal sebagai salah satu bunga hias paling menawan.
Pesonanya tidak hanya ada pada bentuk dan warna, tetapi juga pada cara perawatannya yang penuh ketelatenan.
Meski terlihat rumit, sebenarnya merawat anggrek bisa dilakukan siapa saja asalkan tahu prinsip dasarnya.
Cahaya: Kunci Pertumbuhan Sehat
Anggrek membutuhkan cahaya matahari, tetapi bukan yang terik langsung di siang hari.
Tempat terbaik adalah area yang mendapatkan sinar matahari pagi atau lokasi teduh yang tetap terang.
Cahaya yang cukup membantu proses fotosintesis sehingga tanaman lebih bugar dan siap berbunga.
Penyiraman: Jangan Terlalu Sering
Salah satu kesalahan umum dalam merawat anggrek adalah memberi air berlebihan. Media tanam yang terlalu basah membuat akar mudah busuk.
Siramlah hanya dua hingga tiga kali seminggu, atau ketika media tanam sudah mulai kering. Gunakan air bersih dan pastikan tidak ada genangan di dasar pot.
Pupuk: Nutrisi untuk Bunga Lebat
Agar anggrek rajin berbunga, pupuk menjadi bagian penting. Pilih pupuk khusus anggrek yang sudah diformulasikan sesuai kebutuhan tanaman ini.
Pemberian pupuk secara rutin membantu memperkuat batang, menyehatkan daun, sekaligus merangsang munculnya tunas bunga baru.
Media Tanam: Fondasi Kehidupan Anggrek
Berbeda dengan tanaman lain, anggrek tidak cocok ditanam di tanah padat. Akar anggrek justru memerlukan sirkulasi udara dan drainase yang baik.
Karena itu, media tanam harus longgar, ringan, dan tidak menahan air berlebihan.
Pilihan media tanam populer antara lain:
Arang kayu: ringan, awet, dan tidak mudah lapuk.
Sabut kelapa: mampu menjaga kelembapan, cocok untuk cuaca panas, tapi perlu dicuci bersih sebelum digunakan.
Pakis kering: poros dan ideal untuk akar menempel dengan baik.
Kulit kayu (pine bark): memberi sirkulasi udara maksimal.
Sphagnum moss: sangat cocok untuk bibit atau anggrek muda karena bisa menyimpan air lebih lama.
Banyak pecinta anggrek juga mengombinasikan beberapa media, misalnya arang dengan pakis, agar kelembapan tetap terjaga tetapi akar tidak kekurangan udara. (cor)
Penulis
Meyke Dwifa Subaita, mahasiswi Unipma