Sering Membandingkan Diri di Media Sosial? Hati-hati Bisa Jadi Kamu Terjebak Comparison Trap

Lailatul Fadhila Hikma • Dipublikasikan Rabu, 13 Agustus 2025 | 19:40 WIB
Apa itu comparison trap?
Apa itu comparison trap?

Jawa Pos Radar Lawu – Media sosial kian semakin tumbuh dan merambat dalam setiap aspek kehidupan manusia.

Era serba cepat ini, media sosial tak ayal menjadi tempat berbagi segala sesuatu, entah karir, pencapaian dan hal lainnya.

Namun tanpa sadar, kita terjebak dalam fenomena comparison trap.

Sebuah kebiasaan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain yang terlihat sempurna di layar. 

Fenomena ini semakin marak seiring banjirnya unggahan liburan mewah, karier gemilang, atau momen romantis yang memancing rasa iri dan rendah diri.

Pakar psikologi menyebut, kebiasaan ini bukan sekadar membuat seseorang minder, tetapi juga berisiko memicu stres, kecemasan, hingga depresi. 

Lebih berbahayanya lagi, comparison trap sering kali muncul otomatis di otak, bahkan tanpa disadari, dan sulit dihentikan jika tidak dibarengi kesadaran untuk mengubah pola pikir.

Apa Itu Comparison Trap?

Comparison trap adalah kondisi ketika seseorang terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain dalam berbagai aspek, mulai dari pencapaian, penampilan, hingga gaya hidup. 

Dampaknya, rasa percaya diri menurun, muncul perasaan hidup tidak cukup baik, bahkan menghindari lingkungan sosial yang dianggap lebih sukses.

Menurut teori social comparison yang dikemukakan psikolog Leon Festinger pada 1954, membandingkan diri sebenarnya adalah bagian alami dari proses manusia memahami dirinya. 

Namun, di era media sosial, proses ini bisa menjadi racun mental jika dilakukan berlebihan. 

Unggahan foto dan cerita orang lain sering kali hanyalah potongan momen terbaik, bukan keseluruhan realita hidup mereka.

Tanda Seseorang Terjebak Dalam Comparison Trap

Beberapa tanda seseorang terjebak dalam comparison trap antara lain sering merasa minder.

Sulit bersyukur atas pencapaian pribadi, terobsesi pada penampilan atau hasil akhir, hingga terus menerus cemas dengan penilaian orang lain. 

Kebiasaan ini membuat seseorang terjebak dalam siklus negatif yang menguras energi mental dan emosional.

Riset menunjukkan, perbandingan sosial bisa berdampak berbeda tergantung cara kita memprosesnya. 

Jika dijadikan motivasi, membandingkan diri ke arah atas (upward comparison) dapat memicu semangat untuk berkembang. 

Namun, jika fokus pada kekurangan, hal ini justru memperkuat rasa tidak mampu dan membuat kesehatan mental terganggu.

Langkah untuk Keluar Dari Comparison Trap

Pakar menyarankan beberapa langkah untuk keluar dari jebakan ini, seperti membatasi waktu di media sosial, fokus pada kemajuan diri sendiri, merayakan pencapaian sekecil apa pun, dan mengubah fokus dari hasil akhir menjadi proses. 

Menyadari bahwa standar di dunia maya sering kali tidak realistis juga menjadi kunci untuk menghindari dampak buruk comparison trap.

Singkatnya, membandingkan diri memang wajar, tetapi jika dibiarkan tanpa kontrol, dampaknya bisa menggerogoti kesehatan mental. 

Saat mulai merasa tidak cukup baik hanya karena melihat kehidupan orang lain di media sosial, mungkin sudah saatnya mengambil jeda dan kembali fokus pada kebahagiaan pribadi. (*)

Editor : Riana M.
Sumber : Radar Lawu
membandingkan diri dengan orang lain sosial media psikologi Comparison trap media sosial