Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Jarak Aman Mendengarkan Sound Horeg Minimal 2 Kilometer, Kenapa? Ini Penjelasan Dokter Spesialis THT

Nur Wachid • Kamis, 24 Juli 2025 | 20:08 WIB
Sound horeg viiral.
Sound horeg viiral.

Jawa Pos Radar Lawu – Fenomena sound horeg yang kini marak di berbagai daerah memicu perdebatan baru, tak hanya soal ketertiban, tetapi juga dampaknya terhadap kesehatan pendengaran.

Dokter spesialis THT dari Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), dr. Fikri Mirzaputranto, menyebut jarak aman dari paparan dentuman sound horeg minimal adalah dua kilometer.

Pernyataan tersebut disampaikan dr. Fikri dalam program Catatan Demokrasi yang tayang di kanal YouTube tvOneNews, Selasa, 22 Juli 2025.

Dalam diskusi yang membahas polemik kebisingan ini, ia mengingatkan pentingnya memperhitungkan intensitas suara terhadap masyarakat sekitar yang tidak terlibat langsung dalam acara sound system.

Sound Horeg Bisa Capai 130 dB, Risiko Pendengaran Serius

Menurut Fikri, suara sound horeg dapat mencapai intensitas hingga 130 desibel (dB), level yang sudah masuk kategori berbahaya jika terdengar dalam waktu lama tanpa pelindung telinga.

“Yang paling simpel adalah jarak. Kalau ingin aman dari paparan 130 dB, maka minimal 2 kilometer dari sumber suara,” tegasnya.

Sebagai perbandingan, tingkat suara 130 dB setara dengan suara pesawat jet saat tinggal landas dari jarak sekitar 100 meter.

Bila didengar dari jarak dekat dan dalam waktu lama, dapat menyebabkan kerusakan permanen pada sel-sel rambut di telinga bagian dalam, bahkan bisa memicu gangguan syaraf dan stres pada anak-anak dan lansia.

Polemik Sound Horeg: Antara Budaya Lokal dan Risiko Kesehatan

Sound horeg, yang populer sebagai bentuk hiburan rakyat, memang kerap digunakan untuk memeriahkan acara hajatan, pesta rakyat, hingga pawai budaya.

Baca Juga: Viral Istri Grebek Suami Diduga Polisi di Rumah Selingkuhan, Propam Polri Turun Tangan

Ciri khasnya adalah penggunaan speaker besar dengan volume ekstrem dan efek visual yang mencolok.

Namun, belakangan ini banyak warga yang menyuarakan keresahan atas kebisingan yang ditimbulkan.

Selain mengganggu waktu istirahat dan ibadah, juga dikhawatirkan berdampak langsung pada kesehatan pendengaran masyarakat sekitar.

Perlu Regulasi Tegas dan Edukasi Kesehatan

Pernyataan dr. Fikri menambah dimensi penting dalam diskusi publik tentang sound horeg, yakni keselamatan pendengaran masyarakat.

Ia menekankan bahwa perlindungan bukan hanya untuk penonton, tetapi juga warga di luar area acara yang terkena imbas suara keras tersebut.

Diskursus pun mengemuka antara pelaku seni, penyelenggara acara, dan pemerintah daerah dalam mencari solusi.

Beberapa daerah mulai mempertimbangkan pembatasan jam operasi dan tingkat desibel maksimal, serta edukasi bagi pemilik sound system tentang efek jangka panjang dari kebisingan ekstrem. (kid)

 

Editor : Nur Wachid
#sound horeg #Mendengarkan #Kesehatan Telinga #dokter spesialis tht #jarak aman