Jawa Pos Radar Lawu – Banyak orang memilih pasta gigi berdasarkan rasa mint yang segar atau seberapa banyak busa yang dihasilkan.
Padahal, bagi pemilik mulut sensitif, salah memilih pasta gigi bisa menyebabkan ketidaknyamanan serius, terutama jika produk tersebut mengandung Sodium Lauryl Sulfate (SLS).
SLS adalah bahan umum dalam produk kebersihan, termasuk sabun mandi, sampo, hingga pasta gigi.
Namun, meskipun membuat busa melimpah, SLS bisa menjadi pemicu iritasi pada jaringan lunak mulut, bahkan menyebabkan sariawan berulang.
Beberapa resiko yang terjadi ketika menggunakan pasta gigi yang mengandung SLS:
- Sariawan Berulang (Recurrent Aphthous Ulcers)
SLS diketahui dapat merusak lapisan pelindung mukosa mulut. Akibatnya, pengguna lebih rentan mengalami luka dan sariawan berulang.
Bahkan, bagi sebagian orang, penghentian penggunaan pasta gigi dengan SLS dapat mengurangi frekuensi sariawan secara signifikan.
- Mulut Kering
SLS dapat mengganggu produksi air liur alami.
Air liur yang berkurang menyebabkan mulut terasa kering, memicu bau mulut, serta menciptakan kondisi ideal bagi pertumbuhan bakteri penyebab iritasi dan infeksi.
- Sensasi Terbakar atau Perih
Pengguna dengan kondisi mulut sensitif sering merasakan perih atau panas di lidah dan gusi setelah menyikat gigi dengan pasta gigi yang mengandung SLS.
Gejala ini sering disalahartikan sebagai alergi atau infeksi, padahal bisa jadi reaksi iritatif terhadap SLS.
- Iritasi Gusi dan Lidah
SLS memperparah inflamasi pada jaringan lunak mulut. Gusi yang sudah sensitif akan semakin mudah berdarah, meradang, atau mengalami luka kecil yang perih.
Sodium Lauryl Sulfate mungkin terdengar sepele, namun bagi mereka yang memiliki mulut sensitif, keberadaannya dalam pasta gigi bisa menjadi sumber masalah.
Jika Anda sering mengalami sariawan, mulut kering, atau sensasi terbakar setelah menyikat gigi, sudah saatnya memperhatikan label kandungan produk yang Anda gunakan. (win)
Editor : Riana M.