Jawa Pos Radar Lawu - Vespa dikenal sebagai simbol gaya hidup klasik yang melekat dalam sejarah otomotif dunia.
Namun, di balik pesonanya yang elegan, ada satu varian unik yang tak kalah ikonik: Vespa sespan.
Kombinasi antara skuter klasik dan sidecar ini bukan hanya menarik secara estetika, tapi juga menawarkan fungsi tambahan yang menjadikannya kendaraan serbaguna sejak era pasca-Perang Dunia II.
Penggunaan sespan pada Vespa pertama kali dilakukan Piaggio pada akhir 1940-an.
Seperti dijelaskan dalam situs resmi Museo Piaggio, model Vespa 150 Sidecar VL2T yang diproduksi mulai 1954 dirancang secara khusus dengan penghubung tunggal dan suspensi independen di bagian sespan.
Tujuannya adalah menghadirkan kendaraan roda tiga yang tetap stabil saat bermanuver dan nyaman saat membawa penumpang tambahan atau barang di jalanan berbatu Eropa kala itu.
Bahkan, sidecar ini dilengkapi sistem penguat pada rasio gigi agar mampu menaklukkan tanjakan berat dan medan salju.
Sementara itu di Indonesia, Vespa sespan punya tempat tersendiri di hati komunitas pecinta skuter klasik.
Komunitas seperti Vespa Sespan Indonesia (VSI) aktif di berbagai kota dan sering terlihat menggelar turing atau pameran kendaraan klasik.
Beberapa pengendara bahkan memodifikasi sespan-nya agar lebih modern, namun tetap mempertahankan bentuk khas era 60-an.
Di bengkel spesialis seperti Vesparkindo, sidecar untuk Vespa dibuat dengan material fiberglass ringan dan sistem konektor yang bisa dilepas, menjadikannya fleksibel dan aman digunakan di jalan raya.
Informasi ini tertuang dalam laman resmi mereka, vesparkindo.com.
Tak hanya soal fungsionalitas, Vespa sespan juga punya nilai estetika tinggi. Di beberapa kota besar seperti Yogyakarta atau Bandung, Vespa sespan kerap dipakai untuk wedding ride, city tour, hingga promosi merek lokal.
Bahkan di Roma, perusahaan seperti Vespa Sidecar Tour menjual pengalaman wisata keliling kota dengan Vespa klasik yang dilengkapi sespan, menambah romantisme dan nuansa vintage selama perjalanan.
Sayangnya, tidak semua Vespa cocok dipasangi sespan.
Model-model lawas seperti Vespa 150 VL, GS 150, atau PX Series yang memiliki sasis kuat dan bobot proporsional lebih ideal digunakan.
Penyesuaian sistem pengereman dan distribusi berat juga menjadi hal penting agar Vespa sespan tetap aman dan nyaman dikendarai.
Dari sisi hukum, penggunaan sespan di Indonesia tidak dilarang, namun harus mematuhi aturan modifikasi kendaraan bermotor sesuai regulasi Kementerian Perhubungan dan Ditlantas.
Beberapa Vespa sespan bahkan sudah dilengkapi surat-surat lengkap hasil uji tipe kendaraan roda tiga, menjadikannya legal digunakan di jalan raya.
Kesimpulannya, Vespa sespan bukan hanya tentang gaya, tapi juga sejarah, budaya, dan fungsi.
Di tengah derasnya arus modernisasi dan dominasi skuter matic, Vespa sespan hadir sebagai pengingat bahwa kendaraan bisa punya jiwa dan cerita.
Bagi banyak orang, sespan bukan sekadar tambahan, tapi bagian dari identitas yang tak lekang oleh waktu. (gar)
Editor : Tegar Rukmana