Jawa Pos Radar Lawu - Minggu siang (1/6), suasana Tol Sidoarjo mendadak gaduh.
Sebuah supercar Porsche 718 Cayman GT4 RS warna biru metalik kehilangan kendali di KM 759.600/A arah Porong.
Mobil buas ini menyeruduk Toyota Rush yang berisi satu keluarga.
Hantaman keras membuat SUV tersebut terguling ke parit.
Enam orang dilaporkan mengalami luka-luka.
Tapi di tengah tragedi tersebut, terselip satu pertanyaan absurd yang bikin geleng-geleng kepala: bagaimana kalau Porsche GT4 RS disetiri sopir bus AKAP Sugeng Rahayu?
Sugeng Rahayu bukan sekadar bus malam. Ia legenda hidup di jalur Surabaya–Yogyakarta.
Dikenal dengan kecepatan dan refleks dewa sopirnya, rute yang biasanya ditempuh dalam 6 hingga 8 jam bisa saja dipangkas drastis.
Jika menggunakan GT4 RS dan dikendarai sopir Sugeng, bukan mustahil Surabaya–Jogja cukup ditempuh 2,5 jam saja.
Kenapa bisa secepat itu? Karena Porsche Cayman GT4 RS adalah monster jalanan berselubung bodi sport coupe.
Mengutip spesifikasi resmi dari Porsche International, mobil ini ditenagai mesin 4.0 liter naturally aspirated flat-six yang menghasilkan tenaga 500 PS dan torsi puncak 450 Nm.
Akselerasinya dari 0–100 km/jam hanya butuh 3,4 detik dengan kecepatan maksimum tembus 315 km/jam.
GT4 RS bukan mobil biasa. Ia adalah peluru legal berkaki empat. Tapi jangan harap kenyamanan ala executive class.
Suspensinya keras, ceper, dan suara mesinnya menggelegar.
GT4 RS diciptakan untuk lintasan balap, bukan lubang-lubang di Mantingan atau tikungan tajam alas Ngawi.
Sopir Sugeng mungkin bisa menaklukkannya, tapi penumpang dijamin masuk angin meski kaca tertutup rapat.
Masalah lainnya, GT4 RS tak dibekali fitur canggih seperti ADAS (Advanced Driver Assistance Systems).
Tak ada lane keep assist, tak ada adaptive cruise control.
Tapi buat sopir bus yang biasa menyelip dalam jarak 20 cm sambil teriak “hati-hati dek!”, fitur seperti itu mungkin justru mengganggu insting alami mereka.
Dari sisi harga, GT4 RS bukan untuk sembarang dompet.
Menurut Carmudi Indonesia, harganya bisa menembus Rp 7 miliar tergantung opsi dan personalisasi.
Kalau dibandingkan, harganya setara lima unit bus AKAP baru. (gar)
Editor : Tegar Rukmana