Jawa Pos Radar Lawu – Kabar pernikahan Anak SMP di Lombok menggemparkan jagad internet. Banyak perdebatan muncul.
Emang boleh? Bagaimana kasus nikah muda dari kacamata psikologi?
Bagaimana kesiapan mental mereka menjalani rumah tangga di umur yang masih sangat muda?
Kedua mempelai YL (15) dan RN (16) sama-sama masih duduk di bangku sekolah. Mereka telah menikah dalam prosesi adat Sasak benama nyongkolan.
Sebenarnya, bagaimana sih “nikah muda” dari kacamata psikologi? Hal-hal apa saja sih yang sebenarnya perlu kita siapkan sebelum menikah?
1. Kesiapan menikah
Secara mental, kesiapan menikah meliputi banyak hal. Seperti kontrol emosi, empati, kemampuan komunikasi, kesiapan peran, sosial hingga finansial.
“Alah yang menikah saja bahagia kok.” Memang betul. Tapi pernikahan bukan hanya soal kebahagiaan satu dua hari semata.
Di dalam pernikahan sepasang manusia akan melewati ribuan bahkan jutaan warna emosi yang belum pernah mereka ketahui sebelumnya.
Mereka yang tidak memiliki kontrol emosi, empati dan komunikasi akan kesulitan dalam hal mengekspresikan perasaan. Selain kendali diri, faktor pasangan juga menentukan.
Bukankah kita cenderung baru bisa membicarakan urusan perasaan hanya dengan pasangan? Sikap yang tenang dan dewasa diperlukan dalam membangun rumah tangga.
Baca Juga: Rekomendasi Perumahan Subsidi dan Non Subsidi di Madiun, Pilihan Hunian Nyaman dan Strategis
2. Dampak psikis menikah muda
Selain karena emosi yang cenderung belum stabil, berbagai faktor lain, seperti faktor ekonomi, juga akan memengaruhi kesejahteraan mental dalam rumah tangga.
Ada banyak dampak buruk yang akan menimpa pernikahan terlalu dini. Dampak-dampak berikut mungkin tidak langsung terjadi.
Namun gejalanya kerap diabaikan sampai akhirnya meledak berakhir perpisahan.
a. Merasa terkucilkan
Dampak psikis yang pertama terjadi karena pernikahan di bawah usia lazim (19 tahun) adalah usia di mana seseorang masih mencari jati diri.
Ia masih harus mempelajari banyak hal baik dari bangku sekolahan maupun menjelajahi berbagai pengalaman hidup.
Ikatan pernikahan bisa berdampak membuat mereka terbebani tanggung jawab yang besar hingga merasa terkucilkan.
Sebab tanggung jawab pernikahan pilihan langkah hidup semakin terbatas. Mereka kemungkinan besar sudah tidak bisa lagi mengejar cita-cita.
b. Stress
Sudah bukan rahasia lagi kalau rumah tangga isinya bukan cuma bahagia saja.
Di dalam menikah, ada dua kepala yang disatukan. Ada dua sumber masalah yang mengikat janji setia selamanya.
Baca Juga: Ditinggal Beli Rokok, Mobil Pikap Terbakar di Punung Pacitan, Kerugian Capai Rp 35 Juta!
Tidak heran sepanjang perjalanan mengaruhi bahtera pernikahan, pasangan suami dan istri akan menemui banyak masalah baru.
Dari masalah-masalah ini timbul tekanan stres. Apalagi bagi pasangan-pasangan di bawah umur yang emosinya belum stabil
c. Risiko terjadinya KDRT
Faktanya, kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) lebih sering dialami oleh pasangan hasil pernikahan diri.
Masalahnya, korban KDRT bukan cuma suami atau istri. Anak juga bisa menjadi korban KDRT. Baik kekerasan secara fisik, maupun mental.
Selain masalah ekonomi, akar sumber masalah KDRT berhubungan dengan kesiapan mental.
Emosi yang belum matang membuat mereka lebih sulit menemukan solusi atas sebuah masalah.
Berikut tadi adalah dampak psikolohi yang muncul karena pernikahan dini. Tidak bisa dipungkiri manusia tumbuh dari pengalaman-pengalaman hidupnya.
Semakin banyak pengalaman yang didapatkan, mental dan emosi seseorang bisa semakin matang.
Kesiapan psikis dan mental sangat dibutuhkan sebelum menjalin ikatan janji berdua sehidup semati. (kid)
Editor : Nur Wachid