Jawa Pos Radar Lawu – Ledakan emosi adalah sesuatu yang wajar saat terjadi peristiwa yang menyakitkan hati. Hal ini berkaitan erat psikologi.
Tapi bagaimana kalau terlalu sering? Bagaimana kalau kita mudah marah hanya karena kejadian sepele?
Apa yang sebenarnya terjadi pada kita? Kenapa kita terpicu oleh hal-hal yang “sepele”?
Dr. Jiemi Ardian, SpKJ seorang dokter spesialis jiwa dari Wellspring Indonesia menjelaskan lewat kanal youtubenya tentang Teori Ego State.
Teori ego state
Coba bayangin diri kita terdiri dari banyak orang. Kitanya cuma 1, tapi terdiri dari bagian-bagian yang terpisah. Ada bagian diri kita yang dewasa, bijaksana, dan tangguh.
Tapi ada bagian dari diri kita yang kekanakan, yang emosional, yang takut ditinggalkan, yang merasa direndahkan, yang sering mempertanyakan kenapa orang-orang tidak menghargai kita.
Bagian egois dan kekanak-kanakan inilah yang sering kita sebut dengan inner childatau ego state.
Bisa bayangin bagaimana kalau sisi kita yang kekanak-kanakan ini kena pas dimarahin?
Bagaimana kalau anak kecil yang marah dimarahin?Makin kacau ya kan. Nah bagian ego state ini yang biasanya muncul saat kita marah karena hal sepele.
Satu sisi kita bisa mengerti “ini cuma sepele” atau “nggak seharusnya kita marah”. Tapi“sepele”ini untuk sisi dewasa kita. Tidak untuk sisi ego state kita.
Baca Juga: 5 Hidden Gem di Jogja yang Jarang Diketahui, Cocok Banget Buat Healing Akhir Pekan!
Apa yang orang dewasa pandang sepele, belum tentu sepele bagi anak kecil.
Misal; Umur kita sudah 20 lebih. Lalu suatu malam pasangan kita ketiduran tanpa ngabarin kita duluan. Kamu merespon dengan marah-marah. Bingung sendiri, stres, uring-uringan.
Apakah wajar? Tidak wajar untuk sisi kamu yang dewasa. Tapi sangat wajar untuk sisi ego state/sisi inner child-mu.
Banyak kejadian kecil yang sebenarnya bermakna besar buat kamu. Mungkin dulu kamu pernah mengalami luka batin atau trauma ditinggalkan. Atau mungkin kamu pernah tidak dianggap oleh orang lain.
Sisi ego state kamu enggan mengalami hal serupa dan akhirnya bereaksi berlebihan.
Nah di kehidupan orang dewasa, ada banyak sekali peristiwa yang memicu/meng-trigger perasaan-perasaan emosional ego state kita.
Salah satu cara menanggulangi ini adalah menemukan dan menyadari sisi otentikmu. Sisi di mana kamu bisa menerima banyak luka namun dengan cara dewasa, cara yang sesuai dengan umurmu sekarang.
Sehingga ibarat kata kamu tiba-tiba terkunci kamar mandi, kamu bisa berpikir jernih menggedor atau menghubungi orang yang di luar seperti orang dewasa. Tanpa harus uring-uringan seperti anak kecil.
Kalau sekarang kamu sedang mengalami fase di mana ego state yang ada di dalam dirimu sangat mengganggu aktivitas dan kehidupanmu.
Sangat dianjurkan menghubungi tenaga profesional psikologi untuk bantuan menggali sisi otentikmu. (kid)
Editor : Nur Wachid