Jawa Pos Radar Lawu – Move on atau mengikhlaskan kekasih terasa lebih sulit bahkan mustahil terutama saat hati dan pikiran kita saling berseberangan.
Pikiran ingin mengikhlaskan tapi hati masih enggan melepaskannya. Sekuat apapun kita melawan dan sebanyak apapun bukti mereka tidak baik. Kita kerap terjebak fase sulit melepaskan.
Berbagai alasan yang muncul kemudian membuat kita terjebak dalam lingkaran toxic yang berkali-kali berulang.
Di bawah ini mengutip kanal youtube @psych2go, berikut 8 alasan yang perlu kamu tahu kenapa melepaskan seseorang terasa sangat menyulitkan.
Sebaiknya kalian tahu sebelum benar-benar memutuskan pergi atau bertahan
1. Identitas bersama yang telah terbangun.
Kalau nggak ada dia, hidup terasa hampa. Kalau belum liat dia, hariku rasanya kurang. Dia belahan hatiku.
Kamu telah membangun identitas bersamanya. Dia telah menjadi bagian besar yang mempengaruhi hidupmu.
Mungkin karena kalian telah bersama sekian tahun lamanya. Membiarkan mereka pergi jadi sangat sulit karena seperti melawan separuh atau lebih dirimu sendiri.
2. Terjebak dalam kenangan indah.
Faktanya, kenangan indah selalu berhasil menutupi saat-saat buruk yang terjadi. Disadari atau tidak momen-momen ketika kamu tertawa bersama, saat di mana kamu merasa aman dan dicintai lebih kuat dibanding peristiwa menyakitkan.
Kenangan-kenangan inilah yang kemudian memberatkan langkahmu pergi melepaskan seseorang.
Tapi kamu harus tahu, kenangan indah hanya berputar di tempat yang sama. Ia hanya bisa menutupi tapi tak bisa menyembuhkan luka yang kamu alami.
3. Takut sesuatu yang belum terjadi
Melepaskan sering kali berarti menghadapi hal yang belum terjadi. Saking takutnya sampai kamu tidak lagi bisa membedakan apa yang belum terjadi atau belum tentu terjadi.
Kamu kerap menemukan pertanyaan, Apa jadinya kalau tidak ada dia? Apa aku akan menemukan lagi orang kayak dia? Apa ada yang bisa sayang aku kayak dia?
Pertanyaan-pertanyaan yang berasal dari kecemasan itu menyeret kita ke depan jurang khawatir. Membuatmu ketakutan setengah mati.
Padahal, kamu tetap bisa menikmati pemandangan di depan jurang selama lebih tenang. Pemandangan indah baru terlihat setelah kamu menyingkirkan ketakutan.
Jawabannya cobalah menghadapi perpisahan yang menakutkan dengan penuh keberanian.
4. Kamu merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan mereka.
Apa kamu merasa bersalah saat menggalkan orang spesial yang mengkhianatimu? Apa kamu harus terus memaafkan mereka? Jawabannya, tidak.
Buang jauh-jauh pikiran “Kalau mereka berantakan gara-gara aku pergi, itu berarti salahku.”
Kamu harus paham kebahagiaan orang lain bukan tanggung jawabmu. Kamu tidak bertanggung jawab atas luka mereka.
Oh ya, kamu juga tidak bisa mengisi cangkir orang lain sementara cangkirmu sendiri kosong. Jadi, rawat dan penuhi kasih sayang di dalam dirimu sendiri baru orang lain.
Merawat diri sendiri bukah hal yang egois, itu penting.
Baca Juga: 4 Rekomendasi Parfum Lokal untuk Tampil Fresh Setiap Hari, Nomor 3 Idola!
5. Mereka menarik empati dan luka emosional kalian.
Fransa dan Terry Reel menjelaskan, kita sering tertarik pada orang yang memicu luka emosional yang belum terselesaikan.
Mungkin mereka mengingatkan luka yang pernah kamu rasakan di masa lalu. Diabaikan, didiamkan, atau bahkan ditinggalkan.
Kamu jadi merasa berempati dan tidak ingin orang lain merasakan luka yang sama yang kamu rasakan.
Alih-alih menghindarkan orang lain dari luka mereka, kamu justru semakin terluka karena kehadian mereka.
Memahami pola yang terus berputar ini bisa jadi langkah pertama membebaskanmu dari luka-luka lainnya.
6. Kamu hanya belum siap menghadapi kehilangan
Melepaskan erat hubungannya dengan ikatan batin. Siapa sih di dunia ini yang mau hidupnya dipenuhi kesedihan?
Sayangnya, kita kerap terlanjur mengikat orang lain dengan impian yang kita miliki, atau masa depan indah yang kita bayangkan.
Kita jadi berpikir bertahan adalah solusi meski menyakitkan.
Padahal, hubungan yang sehat terdiri dari dua orang yang saling menyembuhkan. Bukan dua orang yang saling menyakiti satu sama lain.
7. Kamu terlalu banyak menghabiskan waktu dan energi untuk mereka.
Semakin lama kalian menjalin hubungan, rasanya semakin sulit melepaskan. Memutuskan hubungan yang telah kalian jalin jadi membuat semua usahamu sia-sia.
Pola di atas yang keliru. Melepaskan bukan berarti menyerah.
Melepaskan berarti memilih untuk lebih menghargai waktu dan eneergimu selanjutnya untuk melangkah lebih maju, tanpa mereka yang menghalangi.
8. Kamu menunggu dan berusaha membuat mereka berubah.
Kamu terbiasa bertahan sambil berharap mereka berubah. Kamu mungkin cukup percaya dengan sabar mencintainya, mereka akan menjadi seperti yang kamu inginkan dan berhenti menyakitimu lagi.
Yang perlu kamu tahu, perubahan yang tulus datang dari dalam diri mereka. Bukan dari pengorbanan cinta.
Melepaskan memang sulit. Tapi bertahan dengan alasan berharap pasangan kita akan berubah adalah alasan yang lebih konyol.
Sekarang silakan renungkan dan pertimbangkan dari ke 8 alasan di atas. Pada dasarnya, tidak ada manusia yang ingin sendirian. Tapi terluka juga tidak lantas menjadi pilihan utama.
Kamu tidak bisa menghapus rasa haus dengan meminum racun yang ada di depan mata. Bukannya menghilangkan rasa haus, kamu justru akan meninggal pelan-pelan. (kid)
Editor : Nur Wachid