Jawa Pos Radar Lawu - Dua motor retro yang sama-sama mengandalkan tampilan klasik justru bertolak belakang dalam urusan teknologi mesin.
Royal Enfield Classic 500 masih mengusung sistem pendinginan udara (air-cooled), sedangkan Triumph Speed 400 tampil lebih modern dengan pendinginan cairan (liquid-cooled).
Perbedaan ini bukan hanya soal teknis, tapi memengaruhi langsung performa, kenyamanan, hingga umur pakai mesin.
Royal Enfield Classic 500 mengandalkan mesin SOHC 499 cc satu silinder berpendingin udara.
Seperti dijelaskan dalam laman resmi Royal Enfield dan Wikipedia, pendinginan dilakukan dengan memanfaatkan aliran udara yang menyapu sirip-sirip mesin saat motor bergerak.
Sistem ini sederhana dan andal untuk motor dengan putaran mesin rendah hingga menengah.
Dengan tenaga 27,2 bhp dan torsi 41,3 Nm, karakter mesin Classic 500 sangat cocok untuk cruising santai dan memberikan sensasi berkendara yang ‘mentah’, khas motor klasik.
Namun, sistem air-cooled memiliki kekurangan utama: ketergantungan pada aliran udara.
Dalam kondisi lalu lintas padat atau cuaca panas, suhu mesin bisa meningkat drastis karena minimnya sirkulasi udara.
Berdasarkan penjelasan Yamaha Global, sistem ini bekerja optimal hanya saat motor bergerak dalam kecepatan cukup.
Berbeda halnya dengan Triumph Speed 400.
Motor ini memakai mesin 398 cc DOHC berpendingin cairan (liquid-cooled) yang menghasilkan tenaga 40 PS dan torsi 37,5 Nm.
Sistem pendinginan cairan menggunakan radiator, pompa, dan cairan pendingin yang bersirkulasi untuk menjaga suhu mesin tetap stabil di berbagai kondisi.
Menurut Triumph Motorcycles, sistem ini memungkinkan mesin bekerja dengan efisien meskipun dalam kondisi lalu lintas padat atau saat digeber pada rpm tinggi.
Keuntungan dari sistem liquid-cooled adalah kestabilan suhu mesin, efisiensi pembakaran, dan emisi gas buang yang lebih bersih.
Hal ini membuat Speed 400 bukan hanya unggul di angka performa, tetapi juga dalam hal durabilitas jangka panjang dan kenyamanan berkendara dalam berbagai cuaca.
Namun, sistem ini datang dengan kerumitan tambahan: radiator, pompa air, dan kebutuhan penggantian cairan secara berkala.
Dibanding Classic 500 yang nyaris bebas perawatan di bagian pendinginan, Speed 400 menuntut disiplin lebih dalam hal servis berkala. (gar)
Editor : Tegar Rukmana