Jawa Pos Radar Lawu - Mesin OHV atau Overhead Valve adalah teknologi yang tak bisa dilepaskan dari sejarah motor klasik.
Di masa sebelum teknologi OHC (Overhead Camshaft) mendominasi, OHV adalah standar yang digunakan oleh sebagian besar pabrikan motor, dari Jepang, Inggris, India, hingga Amerika.
Ciri khasnya: camshaft berada di dalam blok mesin, sementara katup terletak di kepala silinder dan digerakkan melalui pushrod.
Sistem ini terlihat sederhana, tapi justru itu yang membuatnya tahan banting dan mudah dirawat.
Salah satu contoh paling ikonik adalah Royal Enfield Bullet 350, yang hingga awal 2000-an masih menggunakan mesin OHV klasik dengan sistem karburator.
Mesin ini dikenal karena torsinya yang besar di putaran bawah dan karakter suara “dug-dug” yang khas.
Dikutip dari Autocar India, Royal Enfield akhirnya menghentikan produksi mesin OHV cast iron legendaris mereka demi mengikuti regulasi emisi, tapi tetap mempertahankan gaya dan siluet klasiknya.
Tak hanya Enfield, motor seperti Honda Win 100, Suzuki A100, dan Kawasaki Binter Merzy juga mengandalkan sistem OHV.
Mesin-mesin ini dipilih karena bisa bekerja stabil dalam waktu lama dan tidak terlalu rumit jika diperbaiki di daerah terpencil.
Bahkan hingga saat ini, banyak mekanik senior yang menyebut mesin OHV sebagai “mesin sejuta umat” karena gampang diservis dan jarang rewel asal dirawat dengan benar.
Mesin OHV memang punya keterbatasan. Ia kurang cocok untuk putaran tinggi karena mekanisme pushrod rawan mengalami defleksi atau kehilangan presisi.
Tapi untuk motor-motor harian, klasik, atau cruiser yang tak perlu kecepatan tinggi, mesin ini masih sangat layak diandalkan.
Maka tak heran, di dunia motor klasik dan kustom, mesin OHV justru dicari karena keasliannya. (gar/kid)
Editor : Nur Wachid