Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Jangan Paksakan Bahagia: Kenali Bahaya Toxic Positivity untuk Kesehatan Mental

Indi Wardani • Minggu, 27 April 2025 | 16:25 WIB
Bahaya Toxic Positivity untuk Kesehatan Mental
Bahaya Toxic Positivity untuk Kesehatan Mental

Jawa Pos Radar Lawu - Dalam era media sosial saat ini, kita sering mendengar kalimat-kalimat seperti “Kamu harus tetap positif,” atau “Lihat sisi baiknya saja.”

Sekilas, anjuran ini terdengar baik dan menyemangati.

Namun, tahukah kamu bahwa dorongan untuk terus berpikir positif tanpa mengakui emosi negatif sebenarnya bisa berdampak buruk? Fenomena ini disebut toxic positivity.

Toxic positivity adalah keyakinan bahwa tidak peduli betapa parah atau sulitnya suatu situasi, seseorang harus tetap mempertahankan sikap positif.

Meskipun niatnya mungkin baik, kenyataannya tekanan untuk selalu tampak bahagia dapat membuat seseorang justru merasa semakin tertekan dan kesepian.

Apa Itu Toxic Positivity?

Toxic positivity terjadi ketika emosi negatif seperti sedih, marah, kecewa, atau takut — diabaikan, ditekan, atau dianggap tidak valid karena dianggap “tidak positif.”

Emosi-emosi ini dianggap sebagai beban atau tanda kelemahan, sehingga seseorang merasa perlu menyembunyikan atau mengabaikannya demi mempertahankan citra bahagia.

Contoh umum toxic positivity meliputi:

• “Setidaknya kamu masih beruntung dibanding orang lain.”
• “Jangan sedih, semua akan baik-baik saja.”
• “Coba lebih bersyukur, jangan terus mengeluh.”

Kalimat-kalimat ini mungkin terdengar penuh semangat, tetapi bagi orang yang sedang berjuang secara emosional, kata-kata tersebut justru bisa terasa mengabaikan rasa sakit mereka.

Dampak Buruk Toxic Positivity

Meskipun berpikir positif adalah hal baik, memaksa diri untuk terus-menerus positif justru bisa menyebabkan berbagai dampak negatif, seperti:

• Menekan emosi: Mengabaikan perasaan sedih atau marah bisa menyebabkan stres internal yang lebih besar.

• Meningkatkan rasa malu: Seseorang bisa merasa bersalah atau malu karena tidak mampu “tetap positif.”

• Memperburuk kesehatan mental: Penyangkalan terhadap emosi negatif dapat berkontribusi pada kecemasan, depresi, bahkan kelelahan emosional.

• Hubungan sosial yang dangkal: Toxic positivity membuat orang merasa tidak aman untuk membuka diri, karena takut dianggap lemah atau tidak cukup bersyukur.

Bagaimana Cara Mengenali Tanda-Tanda Toxic Positivity?

Beberapa tanda kamu mungkin sudah terjebak dalam toxic positivity, antara lain:

• Selalu berkata “aku baik-baik saja” meski sedang terluka.
• Merasa bersalah ketika merasakan emosi negatif.
• Menghindari atau menolak mendengarkan curhatan orang lain yang sedang mengalami kesedihan.
• Memberikan nasihat “semangat terus” tanpa benar-benar memahami perasaan orang tersebut.

Cara Menghindari dan Mengatasi Toxic Positivity

1. Akui dan Validasi Emosi

Sadari bahwa semua perasaan — baik positif maupun negatif — adalah wajar dan valid. Tidak apa-apa untuk merasa sedih, marah, atau kecewa.

2. Berlatih Self-Compassion

Alih-alih menghakimi diri sendiri karena merasa sedih, berikan dukungan dan kasih sayang pada diri sendiri. Perlakukan diri sebagaimana kamu memperlakukan sahabat yang sedang terluka.

3. Beri Dukungan Tanpa Mengabaikan Perasaan

Saat orang lain curhat, cukup dengarkan tanpa langsung memberikan solusi atau menuntut mereka untuk berpikir positif. Ucapkan kalimat seperti, “Aku mengerti perasaanmu, aku di sini untukmu.”

4. Hindari Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Setiap orang menjalani hidup dengan tantangan berbeda. Membandingkan masalah diri sendiri dengan masalah orang lain hanya akan menambah beban emosional.

5. Terbuka dengan Emosi Sejati

Belajar jujur tentang apa yang kamu rasakan. Menangis, berbagi cerita, atau mencari bantuan profesional adalah langkah sehat untuk memproses emosi.

Kesimpulan

Toxic positivity mengajarkan kita bahwa terus bersikap bahagia adalah solusi untuk semua masalah, padahal proses penyembuhan dimulai dari mengakui bahwa tidak semua hari harus penuh senyum.

Perasaan sedih, kecewa, dan marah adalah bagian alami dari kehidupan manusia. Dengan memberi ruang bagi semua emosi, kita membangun kesehatan mental yang lebih kuat dan hubungan sosial yang lebih dalam.

Jadi, jangan memaksa diri atau orang lain untuk “selalu positif.” Izinkan diri untuk merasa, berduka, dan tumbuh karena itulah kunci sejati menuju kesejahteraan emosional. (*)

Editor : Riana M.
#mental health #awareness #toxic positivity