Jawa Pos Radar Lawu – Belakangan ini istilah anak skena kembali naik daun di kalangan anak muda urban.
Identik dengan gaya berpakaian nyentrik, nongkrong di kedai kopi, dan kecintaan pada musik indie, anak skena dianggap sebagai simbol gaul masa kini.
Tapi, benarkah untuk dibilang gaul harus jadi bagian dari skena?
Apa Itu Anak Skena?
Secara harfiah, istilah skena berasal dari kata "scene" dalam bahasa Inggris, yang mengacu pada komunitas tertentu dalam ranah budaya populer, terutama musik.
Di Indonesia, anak skena biasanya dikaitkan dengan subkultur musik indie, alternatif, atau underground.
Namun, seiring berjalannya waktu, skena bukan cuma soal musik.
Ia berkembang menjadi gaya hidup dan cara berpenampilan. Anak skena kini punya ciri khas:
Kaos oversize atau band tee
Celana kargo atau jeans belel (ombor-ombor)
Sneakers klasik atau boots gelap
Aksesori edgy seperti topi bucket, kacamata kecil, dan totebag kain
Nongkrong di kedai kopi sambil diskusi seni, musik, atau filosofi
Tren yang Jadi Tolak Ukur Gaul?
Fenomena anak skena bisa jadi tolak ukur eksistensi bagi sebagian orang.
Banyak remaja dan mahasiswa ingin tampil beda, keren, dan diterima dalam komunitas kekinian.
Alhasil, banyak yang mengadopsi gaya skena demi dianggap gaul dan relevan.
Namun, ada juga yang menilai bahwa gaya skena kini mulai bias makna.
Alih-alih terlihat artistik dan edgy, beberapa justru memadukan elemen skena dengan cara kurang proporsional—sehingga terkesan asal tempel dan berantakan.
Skena: Antara Estetika dan Autentikasi
Jadi anak skena memang bukan hanya soal style, tapi juga cara berpikir, selera seni, dan pola interaksi sosial.
Misalnya, banyak anak skena yang juga aktif di komunitas seni, film pendek, fotografi jalanan, bahkan musik eksperimental.
Namun penting diingat, gaya hidup skena bukan satu-satunya cara untuk terlihat gaul atau keren.
Esensi dari jadi "gaul" adalah kepercayaan diri, bukan ikut-ikutan tren tanpa tahu maknanya.
Gaul Boleh, Asal Tetap Jadi Diri Sendiri
Mau tampil skena atau tidak, semua kembali ke diri masing-masing.
Tren bisa berubah, tapi kepercayaan diri dan autentisitas tetap jadi kunci utama.
Kalau kamu memang suka musik indie, seni jalanan, dan nongkrong di kafe vintage, tidak ada salahnya mengadopsi gaya skena.
Tapi jangan sampai ikut-ikutan hanya demi validasi sosial.
Ingat, jadi gaul bukan soal tampilan luar, tapi soal kepribadian yang percaya diri dan tidak takut beda. (ayu/kid)
Editor : Nur Wachid