Jawa Pos Radar Lawu – Serial Adolescence yang telah tayang di Netflix sepertinya mampu menjadi tamparan keras di wajah dunia parenting digital.
Series yang berlatar belakang keluarga kelas menengah yang biasa saja di Inggris ini akan mengajak penonton menelusuri bagaimana dunia maya bisa menjadi ruang gelap yang menumbuhkan bibit-bibit kebencian terhadap perempuan (misogini) hingga mengarah pada tindak kejahatan.
Tak main-main, subkultur involuntary celibate (incel) yang selama ini hanya hidup di ruang digital kini mulai merambah dunia nyata melalui remaja bernama Jamie Miller.
Jamie diceritakan sebagai bocah laki-laki berumur 13 tahun yang dituduh membunuh teman sekolahnya, Katie, setelah cintanya ditolak.
Cerita ini tidak sesederhana soal cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Jamie adalah potret anak yang tumbuh dalam kultur patriarkis, dibesarkan oleh ayah yang tanpa sadar melanggengkan nilai maskulinitas tradisional.
Ketika Jamie memendam kemarahan atas penolakan, ia mengubah rasa kecewa menjadi kebencian yang brutal, ditumpahkan dalam bentuk femisida.
Adolescence Menunjukkan Pentingnya komunikasi Orang Tua dan Anak di Era Digital
Apa yang membuat serial ini begitu mengguncang adalah kenyataan bahwa banyak keluarga, seperti keluarga Miller, mungkin tidak sadar betapa rapuhnya jembatan komunikasi antara orang tua dan anak di era digital.
Ayah Jamie, Eddie, percaya bahwa memaksa anaknya ikut klub sepak bola adalah bentuk kasih sayang, tanpa memahami bahwa Jamie justru mencintai seni menggambar.
Ibu Jamie, Manda, mungkin cukup empatik, namun dirinya tidak cukup hadir di ruang-ruang digital tempat sang anak mulai mengenal dunia incel dan red pills, konsep manipulatif yang menganggap feminisme sebagai ancaman bagi laki-laki.
Ruang Digital Bisa Menjadi Racun Berbahaya Untuk Anak
Lewat series Adolescence ini, Philip Barantini, sang sutradara dengan cermat menyusun bagaimana ideologi beracun ini terselip dalam ruang-ruang yang tak terjamah oleh pengawasan orang tua.
Jamie tidak terlihat sebagai bocah pembunuh, sikapnya justru pendiam, tidak memberontak secara terbuka, namun terlilit rasa inferior sebagai laki-laki yang tak cukup keren untuk disukai.
Menurut studi “The Rage of Lonely Men” (2023) oleh Ruth Rebecca Tietjen dan Sanna K.
Trikkonen, rasa kesepian dan terasing dalam lingkup sosial menjadi bahan bakar utama subkultur incel.
Perasaan tertolak dan tidak cukup macho bisa dengan mudah berkembang menjadi amarah terhadap perempuan yang dianggap sebagai penyebab kegagalan itu.
Kesenjangan generasi antara anak dan orang tua yang disorot dalam serial ini mengingatkan kita akan pentingnya melek digital parenting.
Anak-anak muda hari ini tidak hanya bersosialisasi di dunia nyata, tetapi juga hidup dalam algoritma yang menyesuaikan informasi berdasarkan klik dan ketertarikan mereka.
Sayangnya, ketika anak-anak terjebak dalam konten misoginis yang berulang-ulang, tanpa ada dialog kritis dari orang tua atau guru, maka narasi yang salah bisa menjadi kebenaran tunggal.
Serial Adolescence bukan hanya drama keluarga. Ini alarm keras bagi masyarakat: bahwa membiarkan anak terisolasi dalam kamar bukan bentuk menghargai privasi, tetapi potensi menutup pintu komunikasi.
Jamie mungkin fiksi, tapi realita incel dan kebencian terhadap perempuan sudah banyak menimbulkan korban. (*)