Jawa Pos Radar Lawu - Apple dikenal sebagai salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia dengan lini produk andalannya, iPhone, yang digunakan oleh jutaan orang di berbagai negara.
Namun tahukah kamu, sebagian besar iPhone yang kita gunakan saat ini sebenarnya dirakit di luar Amerika Serikat, terutama di China?
Lalu, bagaimana jadinya jika seluruh proses perakitan iPhone, termasuk manufaktur komponennya, dilakukan di dalam negeri Apple sendiri—Amerika Serikat?
Jawabannya: harga iPhone bisa melonjak drastis, bahkan hingga dua kali lipat dari harga normal.
iPhone yang saat ini dibanderol seharga USD 799 atau sekitar Rp 12,9 juta, bisa melonjak menjadi lebih dari USD 2.000 atau setara Rp 32 juta jika diproduksi sepenuhnya di Amerika Serikat.
Lalu, apa saja penyebab di balik kenaikan harga yang begitu tinggi ini?
1. Biaya Tenaga Kerja yang Jauh Lebih Mahal
Salah satu alasan utama Apple memproduksi iPhone di China adalah karena biaya tenaga kerja di sana jauh lebih murah dibandingkan di Amerika.
Pekerja pabrik di Tiongkok, seperti di Foxconn, menerima upah yang relatif rendah untuk pekerjaan perakitan berskala besar.
Sementara di AS, upah minimum jauh lebih tinggi, dan pekerja manufaktur menuntut standar keamanan serta kesejahteraan kerja yang lebih ketat.
Jika iPhone dirakit di pabrik-pabrik Amerika, Apple harus menggaji pekerja dengan nominal jauh lebih besar, dan tentu saja biaya ini akan dibebankan ke konsumen.
2. Rantai Pasok dan Infrastruktur yang Tidak Efisien
Selama bertahun-tahun, China telah membangun ekosistem industri elektronik yang sangat terintegrasi.
Dari pembuatan chip, casing, kamera, hingga kabel, hampir semuanya bisa dipenuhi dalam satu wilayah industri. Hal ini membuat proses produksi menjadi cepat, efisien, dan murah.
Sebaliknya, Amerika Serikat tidak memiliki infrastruktur manufaktur yang sekompleks China dalam hal produk elektronik konsumen.
Jika seluruh proses harus dilakukan di AS, maka Apple harus membangun pabrik baru, menciptakan rantai pasok baru, hingga mengatur ulang sistem logistik yang selama ini berjalan efisien di Asia.
Ini berarti pengeluaran besar dan waktu yang tidak sebentar.
3. Biaya Logistik dan Distribusi Komponen
Meskipun Apple berniat untuk membawa pabrik ke Amerika, tidak semua komponen iPhone bisa diproduksi di dalam negeri.
Beberapa bagian penting seperti layar OLED dari Samsung (Korea Selatan), chip dari TSMC (Taiwan), dan sensor kamera dari Sony (Jepang), tetap perlu diimpor.
Artinya, biaya pengiriman bahan mentah dan komponen dari berbagai negara ke AS juga akan meningkat.
Belum lagi biaya pajak impor, tarif perdagangan, dan risiko geopolitik yang bisa memengaruhi harga akhir produk.
4. Dampak pada Harga Pasar dan Daya Saing
Jika harga iPhone naik menjadi dua kali lipat, tentu akan memengaruhi daya beli masyarakat global.
Saat ini saja iPhone tergolong sebagai produk premium. Dengan harga Rp 30 jutaan, akan sulit bagi Apple untuk mempertahankan posisinya di pasar negara berkembang seperti Indonesia, India, dan Brasil.
Daya saing Apple pun bisa terganggu oleh kompetitor seperti Samsung dan merek-merek asal China seperti Xiaomi, Oppo, hingga Huawei yang menawarkan ponsel berkualitas dengan harga jauh lebih terjangkau.
Apakah Apple Akan Produksi iPhone di AS?
Meski tidak sepenuhnya diproduksi di AS, Apple sempat menyatakan rencana untuk membuka pabrik chip di negara bagian Arizona melalui kerja sama dengan TSMC.
Langkah ini disebut sebagai upaya diversifikasi pasokan dan mengurangi ketergantungan terhadap China di tengah ketegangan geopolitik yang sedang berlangsung.
Namun untuk saat ini, sebagian besar proses perakitan iPhone masih akan terus berpusat di Asia, khususnya China, India, dan Vietnam.
Strategi manufaktur global Apple sejauh ini terbukti efektif dalam menjaga harga produk tetap kompetitif, meskipun masih tergolong mahal.
Jika Apple benar-benar memindahkan seluruh produksinya ke Amerika, maka konsumenlah yang akan menanggung dampaknya dalam bentuk lonjakan harga yang signifikan.
Jadi, jika kamu merasa harga iPhone sekarang sudah mahal, bayangkan saja jika Apple benar-benar merakitnya di dalam negeri mereka sendiri. (*)
Editor : Riana M.