Jawa Pos Radar Lawu - Simple Man, pengisah di balik cerita film Pabrik Gula, mengangkat tradisi unik bernama manten tebu sebagai inti cerita.
Dalam unggahannya di platform X, ia menyampaikan bahwa tradisi ini bukan sekadar fiksi, melainkan ritual nyata untuk merayakan masa panen tebu yang akan segera diolah menjadi gula.
Tradisi ini berasal dari Tegal, Jawa Tengah, wilayah yang dikenal dengan hasil perkebunan tebunya yang melimpah.
Jejak sejarah gula di Tegal sendiri sudah tercatat sejak sebelum Indonesia merdeka. Berdasarkan data dari Indonesia.go.id, pabrik gula pertama di Tegal telah berdiri sejak tahun 1832.
Seiring waktu, tradisi manten tebu pun lahir sebagai bentuk penghormatan terhadap hasil bumi ritual budaya yang menggambarkan pernikahan simbolis dua batang tebu, layaknya pasangan manusia.
Rangkaian upacara dimulai dengan memilih tebu lanang (laki-laki) dan tebu wadon (perempuan) dari kebun yang sama.
Tebu-tebu tersebut lalu dibersihkan, didandani dengan pakaian dan riasan, bahkan diberi nama. Sehari sebelum upacara, tebu-tebu pengiring juga disiapkan.
Pada hari pelaksanaan, pasangan manten tebu menjalani prosesi khas pernikahan Jawa yang diiringi doa dan harapan.
Setelah itu, mereka diarak keliling kompleks pabrik sebagai bentuk penyebaran sukacita. Puncaknya, kedua tebu dimasukkan ke dalam mesin penggilingan sebagai tanda dimulainya masa produksi gula.
Tradisi ini bukan sekadar perayaan, tapi juga pengingat bahwa panen bukan hanya soal mengambil hasil dari alam, tapi juga tentang memberi kembali.
Menanam tebu dengan penuh rasa hormat menghasilkan panen yang dianggap sebagai berkah, dan lewat tradisi ini, masyarakat diajak untuk menjaga keseimbangan alam serta berperan aktif dalam pertanian yang berkelanjutan.
Selain nilai spiritual dan ekologis, manten tebu juga memperkuat ikatan sosial. Acara ini menjadi momentum penyatuan antara petani, pemilik pabrik, dan masyarakat sekitar.
Semua kalangan, dari anak-anak hingga orang tua, ikut serta dalam perayaan ini. Sebuah simbol harmoni yang memperlihatkan bahwa keberlangsungan produksi gula bukan hanya soal mesin, tapi juga soal hubungan manusia dengan alam dan sesamanya. Penulis: Emailia Suharso/Politeknik Negeri Madiun (naz)
Editor : Nur Wachid