Jawa Pos Radar Lawu - Petasan pertama kali ditemukan di Tiongkok pada abad ke-9.
Seorang juru masak tak sengaja mencampur tiga bahan dapur.
Kalium nitrat, belerang, dan arang kayu bercampur jadi bubuk hitam.
Petasan Masuk ke Indonesia
Petasan sampai ke Nusantara lewat pedagang dan imigran Tionghoa.
Di Jakarta, masyarakat Betawi mulai menggunakannya dalam pernikahan.
Sejarawan Alwi Shahab menyebut tradisi ini meniru budaya Tionghoa.
Lambat laun, petasan digunakan dalam berbagai perayaan di Indonesia.
Petasan dan Perkembangannya
Awalnya, petasan hanya berbentuk bambu berisi bubuk mesiu.
Seiring waktu, muncul berbagai jenis petasan dengan efek berbeda.
Ada yang hanya mengeluarkan suara, ada pula yang memancarkan cahaya.
Inovasi inilah yang kemudian melahirkan kembang api.
Hingga kini, petasan masih digunakan di berbagai perayaan dunia.
Mulai dari Tahun Baru Imlek, pernikahan hingga festival besar.
Meskipun banyak negara mengatur penggunaannya karena alasan keamanan.
Petasan berawal dari penemuan tak sengaja di Tiongkok.
Dari ritual tradisional hingga menjadi bagian dari perayaan modern.
Kini, petasan tetap eksis meski penggunaannya semakin diatur. (fin)
Editor : AA Arsyadani