Jawa Pos Radar Lawu - Kasus yang menjerat food vlogger William Anderson alias Codeblu masih menjadi perbincangan hangat di media sosial.
Setelah dituduh melakukan pemerasan terhadap pelaku usaha kuliner, reputasinya sebagai pengulas makanan kini dipertanyakan.
Di tengah kontroversi ini, warganet ramai membandingkan Codeblu dengan dua sosok food reviewer yang dikenal memiliki kredibilitas tinggi, yakni almarhum Bondan Winarno dan Nex Carlos.
Banyak yang menilai bahwa gaya review Codeblu jauh berbeda dengan kedua tokoh tersebut, terutama dalam hal etika dan objektivitas saat memberikan ulasan kuliner.
Bondan Winarno: Sosok Legenda yang Beretika dalam Review Makanan
Baca Juga: Segini Tarif Fantastis Codeblu Sekali Review, Capai Ratusan Juta hingga Minta Bayaran dalam USD
Nama Bondan Winarno tentu sudah tidak asing bagi pecinta kuliner di Indonesia.
Mendiang dikenal sebagai seorang jurnalis, penulis, sekaligus pembawa acara kuliner “Wisata Kuliner” yang populer di era 2000-an.
Ungkapan khasnya, “Maknyus!”, masih diingat hingga kini oleh banyak orang.
Salah satu hal yang membuat Bondan begitu dihormati adalah cara beliau dalam memberikan ulasan yang objektif dan membangun.
Jika menemukan makanan yang kurang sesuai, alih-alih menjatuhkan atau menghina, ia lebih memilih menyampaikan kritik secara halus dan membangun, agar para pelaku usaha bisa memperbaiki kualitas produk mereka.
Netizen pun mengungkapkan rasa rindu terhadap sosoknya di tengah maraknya food reviewer seperti Codeblu yang dinilai cenderung mencari sensasi dan kontroversi.
“Pak Bondan tuh contoh food reviewer yang punya etika. Nggak asal ngasih ulasan negatif. Kalau ada makanan yang kurang enak, dia tetap menyampaikannya dengan sopan, nggak sampai merugikan usaha orang,” tulis seorang netizen di Twitter.
Netizen lainnya menambahkan,
“Dulu Pak Bondan ngajarin kita buat menghargai makanan. Sekarang ada food vlogger yang malah bikin usaha kuliner susah berkembang dengan ulasan seenaknya. Jauh banget kualitasnya.”
Nex Carlos: Food Vlogger yang Membantu UMKM Berkembang
Di era media sosial, Nex Carlos menjadi salah satu food vlogger yang paling disukai masyarakat.
Berbeda dengan Codeblu yang dikenal sering memberikan kritik tajam terhadap makanan, Nex Carlos justru lebih fokus pada usaha-usaha kecil dan membantu mereka mendapatkan perhatian publik.
Banyak pengusaha UMKM yang mengaku bahwa setelah dikunjungi oleh Nex Carlos, usaha mereka menjadi lebih dikenal dan omzet meningkat drastis.
Hal ini terjadi karena gaya reviewnya yang lebih mengedepankan pengalaman menikmati makanan daripada sekadar mencari kesalahan atau kekurangan produk.
Seorang netizen menulis,
“Food reviewer kayak Nex Carlos itu yang seharusnya dicontoh. Dia datang ke warung-warung kecil, nyobain makanan, kasih masukan, tapi nggak pernah menjatuhkan. Malah ngeramein usaha orang!
Sementara itu, yang lain membandingkan dengan cara kerja Codeblu,
“Bedanya Nex Carlos dan Codeblu itu kayak langit dan bumi. Nex Carlos bantu UMKM, bikin mereka berkembang. Sementara Codeblu? Ulasan jelek dulu, minta duit biar dihapus. Sungguh ironis.”
Codeblu Dituduh Lakukan Pemerasan, Reputasi Food Vlogger Dipertaruhkan
Kasus yang menimpa Codeblu bermula dari ulasannya terhadap Clairmont Patisserie, yang ia tuduh telah menjual kue berjamur.
Setelah unggahan itu viral dan membuat reputasi toko kue tersebut menurun, beredar kabar bahwa Codeblu meminta uang dalam jumlah besar untuk menghapus ulasan negatifnya.
Hal ini pun memicu kemarahan publik, terutama di kalangan pengusaha kuliner.
Banyak yang menilai bahwa review makanan seharusnya bersifat objektif dan bukan menjadi alat untuk memeras pemilik usaha.
Akibat kontroversi ini, banyak restoran mulai melarang Codeblu masuk ke tempat usaha mereka.
Bahkan, di Lampung, sebuah restoran bernama Kiyo Libare memasang pengumuman dengan tanda larangan bagi Codeblu.
Food Vlogger Seharusnya Memberi Manfaat, Bukan Merugikan
Banyak netizen berpendapat bahwa seorang food vlogger harusnya memiliki tanggung jawab moral dalam menyampaikan ulasan.
Sebuah review yang disampaikan secara sembarangan bisa menghancurkan usaha seseorang yang telah dibangun dengan susah payah.
Salah satu komentar dari netizen menyatakan,
“Harusnya food reviewer itu kayak Pak Bondan atau Nex Carlos.
Mereka kasih ulasan yang jujur tapi tetap menghormati usaha orang. Kalau nggak suka sama makanan, ya kasih kritik yang membangun, bukan malah buat sensasi.”
Kontroversi ini juga membuka diskusi lebih luas tentang etika food vlogger di era digital.
Dengan semakin banyaknya orang yang membuat konten review makanan, ada kekhawatiran bahwa banyak dari mereka lebih fokus pada engagement dan kontroversi daripada memberikan informasi yang benar kepada publik.
Akankah Codeblu Kehilangan Kepercayaan Publik?
Kini, banyak yang bertanya-tanya apakah Codeblu masih bisa mempertahankan kariernya sebagai food vlogger setelah skandal ini.
Jika tidak bisa membuktikan bahwa ia bekerja secara profesional dan etis, besar kemungkinan kepercayaan publik terhadapnya akan semakin menurun.
Di sisi lain, kasus ini juga menjadi peringatan bagi para food vlogger lainnya agar lebih berhati-hati dalam menyampaikan ulasan.
Jika ingin menjadi reviewer yang dihormati seperti Bondan Winarno atau Nex Carlos, maka mereka harus menjaga objektivitas, profesionalisme, dan tetap menghargai usaha orang lain.
Bagaimana menurutmu? Apakah kasus ini akan mengubah cara orang melihat food vlogger di Indonesia? (*)
Editor : Riana M.