Jawa Pos Radar Lawu - Humble bragging merupakan fenomena yang semakin marak terjadi, terutama di era media sosial.
Humble bragging mengacu pada perilaku seseorang yang tampak seperti sedang mengeluh atau merendah, tetapi sebenarnya bertujuan untuk menyombongkan diri.
Dengan kata lain, humble bragging adalah kesombongan yang dibalut dengan kerendahan hati.
Menurut Cambridge Dictionary, humble braging adalah tindakan seseorang yang tampaknya merasa malu atau mengeluh, namun di balik sikap tersebut tersembunyi kebanggaan terhadap pencapaiannya.
Fenomena ini dapat dijumpai dalam berbagai interaksi sosial, baik secara langsung maupun melalui media sosial.
Di Indonesia, istilah ini sering diibaratkan dengan ungkapan "merendah untuk meroket."
Seiring dengan perkembangan zaman, semakin banyak individu yang ingin mendapatkan pengakuan dan pujian dari orang lain.
Hal ini mendorong mereka untuk memamerkan prestasi atau pencapaian mereka secara terselubung melalui humble bragging.
Dikutip dari laman Psychology Today, salah satu alasan utama seseorang melakukan humble bragging adalah perasaan malu.
Orang-orang yang merasa malu sering kali mengalami ketidaknyamanan emosional dan takut dianggap tidak layak oleh lingkungan sekitar.
Untuk menghindari perasaan tersebut, mereka menunjukkan kesombongan dengan cara yang tampak rendah hati, meskipun sikap itu tidak sepenuhnya tulus.
Selain faktor malu, humble bragging juga sering kali didasari oleh keinginan seseorang untuk membangun citra positif di mata orang lain.
Studi yang diterbitkan dalam Journal of Personality and Social Psychology mengungkapkan bahwa humble bragging sering dilakukan sebagai strategi untuk meningkatkan rasa hormat dan kesan positif dari orang lain.
Namun, dalam banyak kasus, perilaku ini justru dapat berbalik dan dianggap tidak tulus.
Mengenali humble bragging bisa menjadi tantangan tersendiri. Tidak jarang, sikap rendah hati seseorang sulit dibedakan antara ketulusan dan upaya promosi diri.
Oleh karena itu, penting untuk lebih bijak dalam menanggapi dan memahami fenomena ini agar tidak terjebak dalam perilaku serupa.
Lalu sebenarnya apa yang dicari orang-orang dari penggunaan humble bragging kepada lawan bicaranya?
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sezer, Gino, dan Norton pada 2018, terungkap beberapa motif penggunaan humble bragging.
Salah satunya adalah mencari simpati dari lawan bicara. Dengan menunjukkan kelemahan yang sebenarnya tidak begitu nyata, seseorang berharap mendapatkan perhatian dan rasa iba dari orang lain.
Selain itu, ada keinginan untuk dihormati. Seseorang yang melakukan humble bragging sering kali ingin mendapatkan pengakuan dan penghormatan dari lingkungan sekitarnya, meskipun tidak ingin terlihat secara langsung menyombongkan diri.
Keinginan untuk mengesankan orang lain juga menjadi faktor utama. Dengan cara ini, seseorang berusaha menampilkan citra dirinya sebagai individu yang berbakat atau sukses, namun tetap rendah hati.
Humble bragging juga digunakan sebagai wujud mem-branding diri. Dalam dunia profesional maupun sosial, membangun citra yang baik sangat penting, dan humble bragging menjadi salah satu cara untuk menunjukkan keberhasilan tanpa terkesan arogan.
Terakhir, ada keinginan untuk dipandang memiliki citra yang baik di hadapan orang-orang. Seseorang ingin dilihat sebagai individu yang berprestasi, tetapi tetap rendah hati dan tidak sombong.
Lewat hasil penelitian tersebut, Sezer, Gino, dan Norton juga mengungkapkan bahwa orang-orang lebih menyukai atau memaklumi individu yang pamer dan sombong secara terang-terangan ketimbang yang membalutnya dengan sikap rendah diri tetapi sebenarnya hendak menyombongkan pencapaiannya. (*)
Editor : Riana M.