Jawa Pos Radar Lawu – Tren soal gaya hidup semakin tidak dapat dielakkan. Seperti tren gaya hidup yang kini menjadi perbincangan para kawula muda, YOLO dan YONO.
YOLO (You Only Live Once) dan YONO (You Only Need One), keduanya mengandung filosofi yang mencerminkan cara pandang yang berbeda terhadap kehidupan.
Dua gaya hidup ini kerap dikaitkan dengan pengelolaan keuangan, konsumsi, dan gaya hidup sehari-hari, seperti apa yang disampaikan oleh Rhenald Kasali, seorang akademisi dan praktisi bisnis.
Dalam unggahan video terbaru di akun media sosial pribadinya, Rhenald Kasali menyoroti munculnya dua kelompok esktrim yang muncul di kalangan generasi muda ini.
YOLO, Hidup Sebatas Menikmati Hari Ini
Kelompok yang pertama adalah YOLO. Mereka menganut prinsip “hidup hanya sekali.”
Filosofi inilah yang mendorong gaya hidup hedonis, di mana kebahagiaan saat ini menjadi prioritas utama.
Kelompok ini cenderung menghabiskan uang untuk pengalaman seperti liburan, barang-barang mewah, atau gadget terbaru.
Meskipun terkadang pengeluaran ini melebihi kemampuan finansial mereka.
“YOLO itu, hidup cuma satu kali, jadi nikmati saja. Banyak dari mereka yang memilih untuk mengeluarkan lebih banyak uang.
Baik karena kemampuan finansialnya mencukupi atau sekadar mengejar kepuasan sesaat,” ungkap Rhenald.
Namun, gaya hidup ini juga memiliki risiko.
Pengeluaran yang tidak terkontrol dapat memengaruhi stabilitas finansial jangka panjang, terutama bagi mereka yang belum memiliki perencanaan keuangan yang matang.
YONO, Gaya Hidup Sederhana dan Berkelanjutan
YONO, atau kelompok kedua ini adalah gaya hidup yang mengajarkan kesederhanaan dan efisiensi.
Filosofi ini menekankan bahwa kita hanya membutuhkan satu dari setiap hal yang esensial.
Misalnya, satu mobil untuk keluarga, penggunaan transportasi umum, rumah yang cukup sesuai kebutuhan, atau menggunakan gadget hingga benar-benar tidak layak pakai sebelum menggantinya.
“Gaya hidup YONO mencerminkan hidup yang tidak berlebihan. Mereka memilih hidup minimalis, lebih ramah lingkungan, dan hemat sumber daya.
Prinsipnya: cukupkan apa yang ada, jangan membuang-buang,” tambah Rhenald.
Kelompok YONO ini akan mendukung tren keberlanjutan. Misalnya, mengurangi penggunaan kertas dengan beralih ke transaksi digital.
Pilih YOLO atau YONO?
Menurut Rhenald Kasali sendiri, baik YOLO maupun YONO memiliki tempatnya masing-masing dalam gaya hidup masyarakat modern, terutama bagi generasi muda.
“Pada akhirnya, ini soal selera dan pilihan hidup. Yang penting adalah bagaimana kita bertanggung jawab atas pilihan tersebut,” ujarnya.
Hidup Seimbang Adalah Kuncinya
Tren gaya hidup YOLO dan YONO mencerminkan dua sisi yang saling melengkapi.
Jika YOLO mengajarkan untuk menikmati hidup, YONO mengingatkan pentingnya hidup dengan bijaksana.
Mungkin, kombinasi keduanya adalah solusi terbaik untuk menikmati hidup tanpa melupakan tanggung jawab terhadap diri sendiri, orang lain, dan lingkungan. (*)
Editor : Riana M.