Jawa Pos Radar Lawu – Revenge Bedtime Procrastination (RBP) atau kebiasaan menunda waktu tidur demi me time, kini telah menjadi fenomena umum yang dialami oleh seseorang setelah merasa lelah melakukan rutinitas harian yang padat.
Fenomena Revenge Bedtime Procrastination (RBP) ini awalnya terlihat seperti kebiasaan yang tidak berbahaya.
Namun di balik itu fenomena ini perlahan dapat mengacaukan pola hidup jika terus dibiarkan.
Kebiasaan Revenge Bedtime Procrastination (RBP) muncul sebagai bentuk balas dendam atas waktu personal yang dirasa hilang akibat kesibukan sehari-hari.
Ketika seseorang merasa tidak lagi memiliki kendali atas rutinitas hidupnya, maka mereka cenderung memilih begadang demi mendapatkan waktu me time-nya.
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa fenomena Revenge Bedtime Procrastination (RBP) ini bisa dicegah dengan melakukan terapi cinta diri atau self love therapy.
“Me Time” yang Berujung Merugikan
Revenge Bedtime Procrastination (RBP) lebih dari sekedar insomnia atau gangguan tidur lainnya.
Kondisi ini adalah kebiasaan yang dilakukan secara sengaja untuk mengorbankan waktu tidur dengan melakukan hal-hal yang menurut pelakunya menyenangkan, seperti menonton serial, bermain ponsel, atau berselancar di media sosial.
Padahal, tindakan ini justru kerap menimbulkan masalah kesehatan baru pada tubuh, termasuk kelelahan kronis, stres, dan penurunan produktivitas.
Sebuah penelitian mengungkap bahwa individu yang mengalami Revenge Bedtime Procrastination (RBP) cenderung memiliki pemahaman keliru tentang self love.
Baca Juga: 4 Destinasi Wisata Jember yang Wajib Dikunjungi Saat Long Weekend, Nomor 4 Paling Favorit!
Mereka akan menggunakan dalih me time sebagai alasan untuk menunda waktu tidur. Sayangnya, hal ini justru berdampak negatif pada kesehatan fisik dan mental.
Self Love sebagai Solusi Revenge Bedtime Procrastination (RBP)
Self-love therapy adalah solusi yang dirancang untuk membantu individu mengenali dirinya sendiri, mengembangkan bagaimana cara mencintai diri yang tepat, dan menghilangkan pola pikir destruktif yang memicu kebiasaan menunda tidur.
Terapi ini menekankan pentingnya menetapkan jadwal tidur yang konsisten, memahami secara lebih dalam kebutuhan tubuh, serta menghargai waktu istirahat.
Dalam sebuah penelitian, 2 kelompok mendapatkan perlakuan berbeda (eksperimen dan control).
Kelompok eksperimen menerima perlakuan self-love therapy selama dua minggu dengan empat sesi intensif, sementara kelompok kontrol tidak menerima intervensi apapun.
Hasilnya, kelompok yang mendapatkan perlakuan self love therapy mengalamu tingkat penurunan RBP, sebaliknya kelompok yang tidak mendapatkan perlakuan justru mengalami peningkatan RBP.
Dampak Jangka Panjang
Self love therapy bukan hanya menjadi solusi efektif yang digunakan untuk mengurangi kebiasaan RBP ini, lebih dari itu, terapi ini berpotensi dapat meningkatkan kualitas hidup.
Dengan fokus pada mencinta diri sendiri dengan cara yang sehat, individu tidak lagi menggunakan tidur sebagai korban untuk mencapai kesenangan sesaat. (*)
Editor : Riana M.Sumber : Radar Lawu