Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Memahami Eldest Daughter Syndrome, Beban Tersembunyi Anak Perempuan Tertua, Kamu Relate?

Davita Dyah Ayu • Kamis, 23 Januari 2025 | 18:27 WIB
Banyak orang tua memiliki ekspektasi tinggi terhadap anak pertama
Banyak orang tua memiliki ekspektasi tinggi terhadap anak pertama

Jawa Pos Radar Lawu - Eldest Daughter Syndrome adalah istilah yang belakangan banyak dibahas di media sosial.

Terutama oleh perempuan yang berbagi pengalaman tumbuh sebagai anak perempuan tertua dalam keluarga.

Meskipun bukan diagnosis kesehatan mental resmi, istilah ini merujuk pada fenomena di mana anak perempuan tertua sering kali diposisikan sebagai "orangtua pengganti" yang dibebani tanggung jawab besar di rumah.

Dilansir dari Vogue, anak perempuan tertua kerap diminta menjadi penjaga keluarga, mengurus adik-adik, hingga menjadi penengah dalam konflik.

Beban ini tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga emosional, yang pada akhirnya bisa memengaruhi hubungan sosial dan kesejahteraan mental mereka.

Mengapa Anak Perempuan Tertua Dibebani Lebih Banyak Tanggung Jawab?

Banyak orang tua memiliki ekspektasi tinggi terhadap anak pertama, terutama jika mereka perempuan.

Anak perempuan tertua sering dianggap sebagai "contoh" bagi adik-adiknya dan diharapkan memiliki sikap serta perilaku yang sempurna.

Akibatnya, mereka sering kali harus memikul tanggung jawab yang jauh melampaui usia dan kemampuan mereka.

Mereka sering diberi tugas untuk mengasuh adik-adik atau menjadi perantara saat konflik keluarga terjadi.

Anak perempuan tertua juga diposisikan sebagai "standar emas" yang harus menjadi panutan bagi saudara lainnya.

Selain itu, orang tua kadang membebankan tugas-tugas berat yang seharusnya menjadi tanggung jawab mereka kepada anak pertama.

Beban yang melampaui batas ini membuat anak perempuan tertua kerap merasa tertekan dan terisolasi.

Dampak Eldest Daughter Syndrome pada Hubungan Sosial

Dilansir dari Hindustan Times, pengalaman sebagai anak perempuan tertua memiliki dampak signifikan pada kemampuan bersosialisasi dan membangun hubungan interpersonal.

Berikut adalah tiga dampak yang sering muncul:

Baca Juga: Mengenal Istilah Cringe, Fenomena Viral dalam Kehidupan Modern Dikalangan Muda Mudi

Anak perempuan tertua terbiasa mengurus segalanya sendiri, membuat mereka sulit mempercayakan tugas kepada orang lain. Dalam lingkungan sosial, ini bisa menciptakan dinamika yang kurang nyaman.

Sebagai contoh, mereka mungkin merasa perlu mengontrol rencana hangout, yang akhirnya membuat teman-teman merasa tidak leluasa.

Karena selalu diajarkan untuk memprioritaskan orang lain, anak perempuan tertua sering merasa bersalah ketika mencoba mendahulukan kebutuhan diri sendiri.

Hal ini bisa menghambat mereka dalam menjalin hubungan yang lebih santai dan seimbang.

Anak perempuan tertua cenderung menyembunyikan emosi untuk menjaga harmoni keluarga.

Kebiasaan ini membuat mereka sulit membuka diri kepada teman, sehingga hubungan dengan orang lain terasa dangkal atau kurang akrab.

Istilah Eldest Daughter Syndrome semakin populer di platform seperti TikTok dan X (sebelumnya Twitter).

Banyak perempuan yang membagikan pengalaman mereka, mulai dari beban tanggung jawab yang berat hingga perjuangan mereka mengatasi tekanan tersebut.

Kesadaran ini membuka ruang diskusi yang penting untuk memahami beban tersembunyi anak perempuan tertua.

Menjadi anak perempuan tertua memang menghadirkan tantangan unik. Selain harus memenuhi ekspektasi orang tua, mereka juga sering kali dianggap sebagai "pengganti" orang tua dalam keluarga.

Namun, penting bagi kita untuk mengakui dan mendukung anak perempuan tertua agar mereka tidak merasa terisolasi atau terbebani.

Dengan memahami pengalaman mereka, kita bisa menciptakan lingkungan yang lebih sehat secara emosional, baik di dalam keluarga maupun di masyarakat. (*)

Editor : Riana M.
#Anak Perempuan Pertama #dampak #anak perempuan #mental #Eldest daughter syndrome #sindrom #anak tertua