Jawa Pos Radar Lawu - Istilah Rebecca Syndrome diambil dari novel Rebecca karya Daphne du Maurier yang diterbitkan pada 1938.
Dalam novel tersebut, diceritakan kisah seorang istri kedua dari seorang duda kaya yang terus-menerus merasa tidak mampu bersaing dengan almarhum istri pertama.
Sang istri pertama, Rebecca, digambarkan sebagai sosok yang sempurna dan sangat dikagumi, sehingga menciptakan bayang-bayang yang sulit dilampaui.
Di era modern yang serba online, fenomena Rebecca Syndrome semakin sering terjadi.
Psikolog Dr. Louise Goddard-Crawley menyebutkan bahwa sebagian orang bisa terobsesi dengan masa lalu pasangan mereka, meskipun tidak ada alasan logis untuk merasa cemburu.
Salah satu tanda umum sindrom ini adalah obsesi berlebihan, seperti terus-menerus memikirkan hubungan masa lalu pasangan.
Jika tidak diatasi, perasaan ini dapat berkembang menjadi perilaku yang mengontrol dan merusak hubungan, seperti paranoia terhadap mantan pasangan atau ketakutan bahwa mereka masih menjadi ancaman.
Penyebab Rebecca Syndrome
Penelitian yang dilakukan oleh Universitas Bern, Swiss, pada 2022 menemukan bahwa Rebecca Syndrome sering kali berakar pada trauma masa kecil.
Anak-anak yang mengalami pengabaian emosional atau kasih sayang yang tidak konsisten dari pengasuh cenderung mengembangkan pola kecemburuan yang lebih tinggi di masa dewasa.
Pengasuhan yang tidak stabil menciptakan rasa tidak aman mendalam. Individu dengan pengalaman ini cenderung merasa bahwa ditinggalkan adalah hal yang tak terhindarkan.
Akibatnya, mereka tidak hanya mengharapkan hubungan yang tidak stabil, tetapi juga tanpa sadar menciptakan situasi di mana mereka merasa diabaikan.
Ketika pola ini terbawa ke hubungan dewasa, mereka mungkin menjadi curiga terhadap masa lalu pasangan atau merasa tidak aman dalam hubungan yang sehat.
Alih-alih mencari kepastian, mereka malah fokus pada ketakutan akan kehilangan.
Keberadaan internet dan media sosial memperparah Rebecca Syndrome. Masa lalu pasangan kini lebih mudah diakses melalui unggahan media sosial atau informasi daring lainnya.
Studi menunjukkan bahwa lebih dari setengah individu dalam hubungan pernah mencoba mencari tahu tentang mantan pasangan mereka secara online.
Menurut Goddard-Crawley, internet menciptakan standar yang tidak realistis dan meningkatkan tekanan sosial untuk dibandingkan dengan mantan pasangan atau orang lain.
Hal ini memperkuat rasa cemburu yang tidak rasional dan membuat individu sulit melupakan masa lalu pasangan mereka.
Obsesi terhadap masa lalu pasangan sering kali memengaruhi hubungan yang sedang dijalani. Orang yang mengalami Rebecca Syndrome mungkin berusaha mengontrol pasangan atau merasa tidak cukup baik untuk mempertahankan hubungan.
Jika tidak segera diatasi, perilaku ini dapat merusak kepercayaan dan kedekatan emosional dalam hubungan.
Meskipun Rebecca Syndrome belum diakui secara resmi sebagai gangguan psikologis, fenomena ini semakin relevan di era digital.
Kesadaran akan pola cemburu yang tidak sehat ini menjadi langkah awal untuk membangun hubungan yang lebih baik dan penuh kepercayaan. (*)
Editor : Riana M.