Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Angka Fatherless di Indonesia Tembus 20 Persen, Ini Dampak Negatif Bagi Anak Perempuan

Davita Dyah Ayu • Minggu, 29 Desember 2024 | 01:05 WIB
Dampak negatif Fatherless Bagi Anak Perempuan
Dampak negatif Fatherless Bagi Anak Perempuan

Jawa Pos Radar Lawu -  Fatherless merujuk pada ketidakhadiran figur Ayah dalam hidup seorang anak.

Ada banyak alasan mengapa figur ayah tidak ideal, seperti perceraian, kematian, atau bahkan ketika kedua orang tua masih menikah, tetapi ayah tidak bertanggung jawab sepenuhnya untuk membesarkan anak.

Kondisi Fatherless juga dapat disebabkan oleh kurangnya komunikasi antara Ayah dan anak.

Budaya patriarki menempatkan laki-laki sebagai kepala keluarga dengan tanggung jawab utama mencari nafkah, sementara pengasuhan anak sering dianggap sebagai tanggung jawab eksklusif ibu, yang merupakan sumber masalah tanpa bapak.

Di Indonesia, fenomena fatherless sangat mengejutkan.

Data UNICEF tahun 2021 menunjukkan bahwa sekitar 20,9% anak di Indonesia tumbuh tanpa kehadiran atau peran aktif ayah.

Dari 30,83 juta anak usia dini, sekitar 2.999.577 anak kehilangan figur ayah.

Pada tahun yang sama, survei BPS menunjukkan bahwa hanya 37,17% anak usia 0–5 tahun diasuh oleh kedua orang tua kandung secara bersamaan.

Angka perceraian di Indonesia juga terus meningkat; pada tahun 2022, tercatat 516.334 kasus perceraian, naik 10,2% dari tahun sebelumnya.

Oleh karena itu, Indonesia berada di antara negara dengan jumlah anak tanpa bapak tertinggi di dunia.

Keadaan figur Ayah sangat berdampak, terutama pada anak perempuan.

Anak perempuan yang dibesarkan tanpa ayah sering kali merasa kehilangan orang yang mereka anggap sebagai pelindung, pemberi kasih sayang, dan panutan.

Bagaimana mereka menjalani hubungan romantis saat mereka dewasa dapat dipengaruhi oleh kekosongan emosional ini.

Anak perempuan yang kehilangan figur Ayah sering kali mencoba mengisi kekosongan tersebut melalui pasangan mereka.

Mereka mengharapkan pasangan menjadi sumber perhatian, kasih sayang, perlindungan, dan dukungan yang seharusnya mereka dapatkan dari Ayah.

Harapan ini sering kali tidak realistis dan menciptakan ketergantungan emosional yang tidak sehat.

Banyak perempuan dengan pengalaman fatherless lebih tertarik pada pasangan yang lebih tua dan memiliki sifat protektif.

Mereka mencari sosok yang dapat menggantikan peran Ayah. Meskipun demikian, hubungan ini seringkali menjadi tidak seimbang dan berisiko berujung pada hubungan yang berbahaya.

Ketika pasangan diharuskan untuk memikul tanggung jawab sebagai ayah, ketidakpuasan dan frustrasi dapat muncul, yang pada gilirannya dapat menyebabkan keretakan dalam hubungan.

Perempuan yang tidak memiliki figur ayah mungkin lebih rentan terhadap rasa tidak aman, kecemasan, dan ketergantungan berlebihan pada pasangan.

Mereka mungkin percaya bahwa pasangan mereka akan memenuhi semua kebutuhan emosional mereka, yang seringkali tidak mungkin.

Mencari figur Ayah pada pasangan bukanlah solusi yang sehat untuk mengatasi luka emosional akibat fatherless.

Menghadapi luka emosional akibat fatherless membutuhkan waktu dan upaya.

Anak perempuan harus memahami perasaan mereka, mengakui kehilangan, dan menemukan cara sehat untuk memenuhi kebutuhan emosional mereka.

Langkah awal yang penting adalah memperkuat minat, bakat, dan identitas diri.

Hubungan romantis tidak seharusnya bergantung pada peran yang tidak sesuai, tetapi pada keseimbangan emosional dan saling mendukung.

Sangat penting bagi perempuan untuk menyadari bahwa pasangan mereka tidak dapat menggantikan peran ayah mereka dalam hidup mereka. (*)

Editor : Riana M.
#dampak negatif #anak perempuan #data #figur ayah #budaya patriarki #unicef #fatherless