Jawa Pos Radar Lawu - Fenomena generasi strawberry terus-menerus menghantui generasi muda Indonesia.
Dampak buruk mental generasi strawberry seperti karakter anak yang lemah dan rapuh menjadi masalah yang membutuhkan perhatian khusus dari berbagai pihak.
Rhenald Kasali, penulis buku ‘Generasi Strawberry’ mengungkapkan keprihatinannya melalui postingan instagram tentang fenomena strawberry parenting yang semakin marak terjadi.
Fenomena ini tidak hanya berdampak pada pola asuh anak, namun juga melahirkan generasi strawberry yang indah dari luar namun rapuh saat menghadapi tekanan.
Fenomena Generasi Strawberry
Istilah “strawberry” disematkan kepada generasi ini karena sifatnya yang mirip buah strawberry menarik dan indah di luar, tetapi mudah rusak bila ditekan.
Generasi ini tidak terbiasa menyelesaikan masalah, sehingga saat berhadapan dengan masalah yang sepele mereka kurang tahan banting dalam menghadapi realitas hidup.
Kasus-Kasus Strawberry Parenting
Rhenald meringkas 4 kasus yang sempat menjadi buah bibir masyarakat yang berkaitan dengan strawberry parenting dan generasi strawberry:
- Kasus guru honorer, Supriyani
Supriyani dilaporkan atas dugaan penganiayaan terhadap seorang siswa karena ibunya menemukan bekas memar di tubuh siswa tersebut.
Siswa tersebut ternyata anak seorang polisi berinisial AIPDA WH, setelah diselidiki guru Supriyani mengaku tidak mengajar kelas anak tersebut dan tidak pernah memiliki interaksi langsung dengannya.
Setelah sempat ditahan oleh pihak berwajib, Supriyani akhirnya mendapat vonis bebas.
- Kasus Dokter Koas UNSRI
Beberapa waktu yang lalu sempat viral video pemukulan yang melibatkan seorang dokter koas Universitas Sriwijaya (Unsri).
Peristiwa ini bermula dari ketidaksetujuan seorang mahasiswi koas terhadap jadwal piket saat libur Natal dan Tahun Baru.
Mahasiswi tersebut bercerita kepada orang tuanya yang kemudian mengambil tindakan untuk menemui chief koas yang membagi jadwal jaga tersebut.
Saat pertemuan tersebutlah akhirnya terjadi peristiwa pemukulan tersebut.
Dan setelah diusut, diketahui bahwa latar belakang mahasiswi tersebut merupakan anak dari Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Kalimantan Barat dan ibunya pengusaha galeri batik tenun terkenal di Palembang.
Peristiwa ini menunjukkan ketidakmampuan individu untuk menyelesaikan masalah secara mandiri sampai harus mengadu kepada orang tua dan berbuntut panjang.
- Kasus bullying siswa BINUS
Seorang siswa BINUS berinisial RE menjadi korban bullying oleh temannya yang merupakan anak politisi.
RE menceritakan pengalamannya saat menghadiri rapat audiensi di komisi III DPR bahwa ia mendapatkan bullying baik secara verbal maupun non verbal.
RE juga bercerita bahwa pelaku bully tersebut selalu mengancamnya dengan mengatakan bahwa bapak pelaku adalah pejabat, ketua partai, dan anggota DPR, dan MK.
- Kasus persekusi terhadap siswa SMA Gloria Surabaya
Dalam video yang sempat viral menunjukkan Ivan Sugianto yang melakukan persekusi kepada seorang siswa.
Dengan membawa beberapa preman, Ivan berteriak penuh emosi menyuruh siswa tersebut bersujud dan menggonggong di hadapannya.
Hal ini karena ia mendapat laporan dari anaknya bahwa anaknya telah di bully oleh siswa tersebut dengan memanggilnya ‘pudel’.
Pada akhirnya Ivan harus berhadapan dengan pihak kepolisian akibat perilakunya ini.
Peristiwa ini menunjukkan keterlibatan orang tua yang berlebihan, alih-alih mendorong anak untuk menyelesaikan masalah dengan bijak.
Pesan Rhenald Kasali
Baca Juga: Sarkawi Sumberurip: Daya Tarik, Fasilitas, Harga Tiket Masuk, Jam Operasional, dan Rute
Rhenald menekankan bahwa anak-anak pasti akan menghadapi masalah yang sesuai dengan usianya.
Dan disitulah anak akan menemukan esensi belajar untuk menghadapi, mengatasi dan mencari jalan keluar.
Tantangan ini adalah bagian penting dari proses belajar untuk mengembangkan kecerdasan sosial dan kemampuan berkomunikasi (CIQ).
Anak-anak yang berhasil melewati tantangan ini akan menjadi calon pemimpin yang tangguh.
Untuk mengatasi fenomena ini, Rhenald mendorong para orang tua untuk memberikan pola asuh yang seimbang dengan memberikan ruang kepada anak untuk menghadapi tantangan.
Selain itu, untuk menghindari mental generasi strawberry orang tua sebaiknya jangan terlalu protektif memanjakan anak dan harus mengajarkan nilai-nilai kemandirian.
Dengan pendekatan ini, generasi muda diharapkan dapat tumbuh menjadi individu yang tidak hanya menarik dari luar, tetapi juga kuat dan tangguh menghadapi berbagai dinamika kehidupan. (*)