Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Rhenald Kasali Beberkan Pentingya Bangun Kebiasaan Self Discipline, Jangan Biarkan Anak Terjebak di Lingkaran Forced Discipline

Lailatul Fadhila Hikma • Rabu, 18 Desember 2024 | 15:02 WIB
Ilustrasi  Membangun Kebiasaan Self Discipline Pada Anak (freepik)
Ilustrasi Membangun Kebiasaan Self Discipline Pada Anak (freepik)

Jawa Pos Radar Lawu – Rhenald Kasali, Guru Besar UI (Universitas Indonesia) mengungkapkan pentingnya membangun kebiasaan self-discipline pada anak sejak usia dini.

Dalam kanal YouTube Grace Tahir, Rhenald berbagi pandangan mengenai anak-anak yang tidak diberikan tanggung jawab cenderung bergantung pada kebiasaan forced discipline atau disiplin yang dipaksakan

Hal ini berdampak pada sulitnya anak mengembangkan kebiasaan disiplin secara mandiri di kemudian hari. Apalagi generasi muda saat ini rawan terkena mental generasi strawberry.

Rhenald menjelaskan bahwa anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan forced discipline hanya akan melakukan sesuatu karena tuntutan dari luar, bukan kesadaran pribadi.

“Anak harus tahu bahwa tanggung jawab adalah bagian dari kesehariannya. Dengan begitu, ia bisa melatih kebiasaan self-discipline yang lebih efektif dan menyenangkan,” tegasnya.

Perbedaan Forced Discipline dan Self-Discipline

Forced discipline atau disiplin yang dipaksakan oleh keadaan kini masih menjadi kebiasaan yang dianggap lumrah.

Misalnya, budaya atau lingkungan di kantor yang memaksa untuk melakukan forced discipline. Seseorang akan bangun pagi dan bekerja tepat waktu karena takut kehilangan pekerjaannya atau tidak mendapatkan gaji.

Ini bukan disiplin sejati, melainkan tuntutan dari luar.

Sebaliknya, self discipline atau disiplin diri adalah kebiasaan yang lahir dari kesadaran pribadi, tanpa paksaan.

Mereka yang memiliki self-discipline menjalani hidup dengan lebih ringan, menikmati setiap prosesnya dan akan mendapatkan kehidupan yang lebih menyenangkan serta terorganisir.

Pentingnya Peran Orang Tua Membangun Kebiasaan Self Discipline

Zaman dahulu, kebiasaan orang tua memberikan tugas kepada anak berlangsung secara alamiah. Tanpa perlu mengeluarkan banyak teori, anak-anak sudah terbiasa membantu orang tua dalam mengerjakan pekerjaan rumah.

Namun, kini tanggung jawab itu seringkali diambil alih oleh layanan modern atau layanan service yang membuat anak-anak tumbuh tanpa memahami makna disiplin dan tanggung jawab.

Orang tua adalah kunci membangun karakter anak, misalnya melalui kebiasaan kecil. Memberikan tugas seperti merapikan tempat tidur, mencuci pakaian, atau membantu memasak dapat melatih anak untuk disiplin dan bertanggung jawab.

Kebiasaan ini, jika ditanamkan sejak dini, akan menjadi bekal berharga saat anak beranjak dewasa.

Melatih Self Discipline Sejak Kecil

Mengubah kebiasaan forced discipline menjadi self-discipline memerlukan waktu yang tidak sedikit, apalagi jika kebiasaan itu tidak ditanamkan sejak kecil.

Namun, proses ini penting untuk membentuk individu yang lebih mandiri dan bertanggung jawab.

Orang tua diharapkan dapat memulai dengan langkah-langkah kecil, seperti:

  1. Memberikan tugas sederhana sesuai usia anak.
  2. Membiasakan rutinitas harian, seperti merapikan tempat tidur setelah bangun.
  3. Memberikan apresiasi atas upaya anak untuk membangun kepercayaan diri.

Dengan pendekatan ini, anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya disiplin, tetapi juga memahami arti tanggung jawab. (*)

Editor : Riana M.
#generasi strawberry #force discipline #nak #rhenald kasali #Strawberry Generation #pola asuh #orang tua #self discipline #kebiasaan