Jawa Pos Radar Lawu - Trauma bonding sering kali sulit untuk diakhiri karena adanya penguatan positif yang muncul selama fase "kasih sayang".
Harapan yang tidak realistis bahwa pelaku akan berubah menciptakan dilema emosional yang mendalam di dalam fase traume bonding.
Perasaan takut, malu, dan rendah diri semakin memperkuat trauma bonding. Pelaku sering kali menggunakan teknik gaslighting untuk meyakinkan korban bahwa mereka adalah satu-satunya orang yang benar-benar peduli.
Dalam situasi ini, korban merasa semakin terasing dan kehilangan dukungan dari orang-orang terdekat.
Cara Mengatasi Trauma Bonding
- Menyadari Pola Siklus Kekerasan
Langkah pertama untuk mengatasi trauma bonding adalah mengenali pola siklus kekerasan dan rekonsiliasi.
Memahami bahwa permintaan maaf dari pelaku hanyalah bagian dari siklus dapat membantu korban melepaskan diri dari harapan yang tidak realistis.
- Meningkatkan Kesadaran Diri
Korban perlu menyadari bahwa mereka bukan penyebab dari kekerasan yang dialami.
Membuat daftar momen-momen kekerasan dan membandingkannya dengan janji-janji pelaku dapat membantu korban melihat pola yang berulang dan menyadari bahwa situasi tersebut tidak sehat.
- Mendapatkan Dukungan dari Orang Terdekat
Berbicara dengan teman atau anggota keluarga yang dapat dipercaya adalah langkah penting.
Dukungan dari orang lain dapat membantu korban merasa bahwa mereka tidak sendirian dan berhak mendapatkan hubungan yang lebih baik.
- Mencari Bantuan Profesional
Terapi dengan psikolog atau konselor dapat membantu korban memproses emosi mereka, mengidentifikasi pola trauma bonding, dan membangun rasa percaya diri.
Bantuan profesional juga dapat memberikan strategi untuk keluar dari hubungan yang tidak sehat.
Trauma bonding adalah ikatan emosional yang terbentuk akibat siklus kekerasan dan rekonsiliasi dalam suatu hubungan.
Fenomena ini dapat terjadi dalam berbagai jenis hubungan, termasuk romantis, keluarga, persahabatan, dan lingkungan kerja.
Setiap individu berhak untuk tidak terjebak dalam hubungan yang penuh kekerasan, dan dengan dukungan yang tepat, mereka dapat memutus siklus ini dan memulihkan diri dari trauma yang dialami. (*)
Editor : Riana M.