Jawa Pos Radar Lawu - Pembayaran digital kini menjadi pilihan utama bagi para Gen Z. Selain praktis, mudah dan simpel, pembayaran digital kini sudah menjadi sebuah tren baru.
Namun, di balik kemudahan yang ditawarkan oleh pembayaran digital, risiko keamanan data semakin tinggi. Bukan hanya Gen Z, namun semua pengguna layanan pembayaran digital harus waspada.
Kasus pencurian data sering kali terjadi dalam transaksi digital. Ini tentunya menjadi peringatan bagi para pengguna untuk lebih berhati-hati.
Lantas, bagaimana Gen Z dan pengguna dompet digital dapat melindungi privasi mereka dan memastikan keamanan data?
Kasus Pencurian Data dalam Transaksi Elektronik
Kemudahan dalam menggunakan pembayaran digital membuat pengguna harus berhati-hati dalam melakukan transaksi. Terlebih, kini kasus pencurian data pribadi dalam pembayaran digital kian marak.
Salah satu modus yang sering terjadi adalah phishing, di mana pelaku kejahatan mencoba mendapatkan informasi sensitif pengguna, seperti PIN atau kata sandi, melalui email atau pesan palsu.
Kaspersky, perusahaan keamanan siber global mendapati phising yang berkaitan dengan pencurian data kredensial pengguna perangkat teknologi terus meningkat.
Pada awal tahun 2024, Kaspersky menemukan 26 juta akses ke sumber daya palsu yang menyasar pengguna teknologi di seluruh dunia. Jumlah itu naik 40 persen bila dibandingkan dengan temuan pada Januari-Juni 2023.
Indonesia kini menempati peringkat ke-76 secara global dalam ancaman siber lokal.
Selain itu, peretasan akun melalui aplikasi tidak resmi atau jaringan Wi-Fi publik turt menjadi ancaman nyata. Maka dari itu, pengguna diharapkan untuk selalu waspada dan memahami pentingnya menjaga privasi dalam transaksi elektronik.
Langkah-Langkah Meningkatkan Keamanan Akun
Baca Juga: Libur Nataru di Depan Mata, KAI Hadirkan Direct Train untuk Perjalanan Lebih Nyaman dan Efisien
Untuk melindungi data pribadi dalam transaksi elektronik, hal-hal yang perlu dilakukan antara lain :
- Aktifkan Autentikasi Dua Faktor (2FA)
Hampir semua platform pembayaran elektronik kini menyediakan fitur ini. Dengan mengaktifkan 2FA, setiap transaksi akan memerlukan verifikasi tambahan, seperti permintaan kode OTP yang dikirimkan melalui SMS.
- Gunakan Kata Sandi yang Kuat dan Unik
Pengguna harus menghindari menggunakan kata sandi yang sama untuk beberapa akun. Buat kombinasi kata sandi yang sulit ditebak dan ubah secara berkala
- Hindari Jaringan Wi-Fi Publik
Jaringan Wi-Fi tanpa perlindungan enkripsi, karen ini bisa menjadi sasaran empuk bagi peretas. Sebisa mungkin gunakan data seluler atau jaringan Wi-Fi yang aman saat melakukan transaksi.
- Unduh Aplikasi Resmi
Pastikan aplikasi pembayaran diunduh langsung dari toko laman resmi seperti Google Play Store atau App Store. Ini bertujuan untuk menghindari risiko aplikasi palsu.
- Pantau Riwayat Transaksi
Selalu cek riwayat transaksi secara berkala untuk mendeteksi adanya aktivitas mencurigakan sejak dini.
Kesadaran Gen Z tentang Pentingnya Perlindungan Privasi
Gen Z yang tumbuh di tengah kemajuan teknologi, tentunya harus memiliki kesadaran yang lebih tinggi tentang pentingnya keamanan data dibandingkan generasi lainnya dan menjadi pionir yang mengedukasi tentang pentingnya hal ini.
Namun, meskipun sudah memiliki kesadaran yang tinggi, banyak dari mereka yang masih lengah terhadap ancaman, terutama karena menganggap risiko keamanan sebagai hal yang kecil.
Edukasi tentang pentingnya privasi dan keamanan data adalah kunci untuk memastikan transaksi digital tetap aman. (*)
Editor : Riana M.