Jawa Pos Radar Lawu - Pernahkah kamu bertemu seseorang yang selalu merasa dirinya korban dalam setiap situasi? Atau mungkin, seseorang yang gemar menyalahkan orang lain saat masalah terjadi?
Fenomena ini sering disebut victim mentality dan memiliki kemiripan dengan self serving bias. Namun, apakah keduanya sama? Dan bagaimana peran pola asuh, khususnya strawberry parenting, dalam membentuk karakter seperti ini?
Meskipun keduanya terlihat serupa, self serving bias dan victim mentality memiliki perbedaan mendasar.
Self Serving Bias, Apa Itu?
Self serving bias adalah kecenderungan seseorang untuk menyalahkan orang lain atau situasi ketika menghadapi kegagalan, dan hanya menilai positif kepada dirinya sendiri.
Rhenald Kasali memberikan contoh kasus self serving bias, misalkan saat seseorang mendapat nilai yang buruk saat ujian, ia akan menyalahkan dosennya dengan berkata ‘dosen itu emang nggak suka saya dari dari dulu’.
Bias ini sering kali membuat seseorang sulit introspeksi, karena mereka terus-menerus merasa benar.
Lalu, Apa Itu Victim Mentality?
Sedangkan victim mentality adalah pola pikir di mana seseorang merasa dirinya selalu menjadi korban, bahkan dalam situasi di mana mereka memiliki andil atau kendali.
Orang dengan victim mentality percaya bahwa hidup tidak adil kepada mereka, dan mereka cenderung meratapi keadaan tanpa mencoba mencari solusi.
Contohnya dalam dunia kerja kitapasti pernah bertemu dengan orang yang saat mendapatkan kritik atau teguran ia akan berkata ‘bos ku itu toxic’ atau ‘rekan kerja ku itu toxic’
Secara garis besar, self serving bias dan victim mentality memang memiliki kesamaan, yakni keduanya cenderung menyalahkan orang lain saat mengalami kegagalan atau bertemu dengan kondisi yang sulit.
- Fokus Penyebab Masalah
Pada kondisi self serving bias seseorang akan lebih fokus menyalahkan situasi atau individu tertentu yang dianggap penyebab kegagalan.
Sedangkan victim mentality mereka cenderung melihat diri sebagai korban dari sistem atau keadaan hidup.
- Respon Terhadap Masalah
Pada self serving bias seseorang akan mencari pembenaran atas kesalahan pribadi atau membutuhkan konfirmasi dan validasi dari orang lain, sedangkan victim mentality mereka hanya meratapi nasib dan tidak mencoba mencari solusi.
- Dampak Psikologis
Keduanya sama-sama merugikan diri sendiri, karena merusak hubungan sosial dan menghambat karir masa depan.
Pola asuh strawberry parenting yang terlalu melindungi anak dari kegagalan menjadi penyebab utama munculnya kedua karakter ini.
Orang tua yang terlalu sering membela anaknya tanpa mempertimbangkan objektivitas, justru membuat anak kesulitan menerima tanggung jawab atas kesalahan mereka sendiri.
Misalnya, anak dihukum di sekolah karena melanggar aturan, tapi orang tua langsung menyalahkan guru atau sekolah tanpa introspeksi bahwa anaknya mungkin memang salah.
Pola pikir seperti itu tanpa disadari akan dicontoh dan akhirnya membentuk karakter yang sama pada anak.
Anak yang tumbuh dalam lingkungan seperti ini cenderung merasa dunia selalu tidak adil kepadanya, sehingga mereka memiliki victim mentality atau self serving bias dalam dirinya.
Jika pola asuh ini terus berlanjut, anak-anak akan sulit berkembang menjadi individu yang tangguh. Mereka akan kesulitan menghadapi kritik, mudah menyerah, dan sulit bekerja sama dengan orang lain di dunia kerja atau kehidupan sosial. (*)
Editor : Riana M.