Jawa Pos Radar Lawu - Fenomena self serving bias semakin marak terjadi pada generasi muda, khususnya pada generasi strawberry.
Self serving bias mengacu pada kondisi saat seseorang selalu menyalahkan orang lain atau kondisi saat mereka mengalami kegagalan.
Rhenald kasali menyebukah bahwa kondisi ini merupakan penyakit yang berbahaya bagi generasi muda bila tidak segera ditangani.
self serving bias tidak muncul begitu saja. Salah satu akar penyebabnya adalah pola asuh yang dikenal sebagai strawberry parenting.
Strawberry Parenting, Apa Itu?
Strawberry parenting adalah tipe pola asuh yang terlalu melindungi dan memanjakan anak.
Anak dibesarkan layaknya buah strawberry yang harus dijaga dengan sangan baik karena bisa mendapat tekanan sedikit saja bisa hancur dengan mudah.
Pola asuh ini sering memberikan anak kenyamanan berlebih dan menghindarkan mereka dari kesulitan, sehingga anak tumbuh tanpa keterampilan menghadapi masalah.
Self Serving Bias jadi Produk Strawberry Parenting
Rhenald Kasali pernah menjelaskan bahwa pola asuh yang overprotective membuat anak tumbuh dengan mentalitas yang rapuh.
Ketika anak-anak menghadapi kritik atau kegagalan, mereka cenderung memiliki victim mentality, yakni menyalahkan orang lain atau situasi karena tidak pernah dilatih untuk menerima tanggung jawab atas tindakan mereka sendiri atau
Sehingga pola pikir seperti ini akan membentuk karakter mereka dan terbawa hingga usia dewasa bahkan saat mereka hidup bersosial.
Anak- anak yang tumbuh dengan strawberry parenting biasanya cenderung sulit menerima kritik dari atasan atau rekan kerja mereka.
Akibatnya, banyak yang memilih resign setelah diberi feedback negatif, lalu menyebut kantor atau bos mereka sebagai toxic.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengenali tanda-tanda self serving bias agar kita bisa mengantisipasi dan melindungi diri kita sendiri:
- Defensif saat dikritik, orang dalam kondisi self serving bias merasa diserang dan dibenci saat orang lain memberikan kritik atau saran, mereka tidak bisa memahami bahwa hal tersebut merupakan pelajaran.
- Selalu menyalahkan orang lain, hal ini terjadi karena mereka hanya menilai positif dirinya sendiri, sehingga saat dirinya gagal mereka akan menyalahkan orang lain atau menyalahkan situasi untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Mentalitas seperti ini terbangun salah satu faktornya adalah karena mereka tidak pernah diajarkan untuk menerima kekalahan dan merasakan kekecewaan.
- Kesulitan menghadapi tekanan, karena terbiasa hidup dengan mudah, selalu dimanja dan dilindungi orang tuanya, anak-anak ini tidak terbiasa mengadapi tantangan yang mengakibatkan mereka mudah menyerah saat menghadapi kondisi yang sulit.
Menurut Rhenald Kasali, pola asuh yang seimbang adalah kunci untuk membentuk karakter anak yang kuat dan tidak rapuh seperti generasi strawberry.
Orang tua harus mengajarkan anak untuk menghadapi tantangan, menerima tanggung jawab, dan belajar dari kesalahan.
Self-serving bias bisa menjadi penghalang besar bagi masa depan generasi muda, terutama di dunia kerja. Pola asuh yang baik harus membantu anak tumbuh menjadi individu yang kuat, tangguh, dan mampu introspeksi. (*)
Editor : Riana M.