Jawa Pos Radar Lawu - Decision fatigue atau kelelahan mental karena terlalu banyak mengambil keputusan kini menjadi istilah yang sering dibahas, terutama dalam kaitannya dengan generasi strawberry.
Generasi strawberry ini kerap digambarkan sebagai individu yang mudah rapuh meskipun memiliki banyak potensi kreatif.
Namun, benarkah decision fatigue hanya dialami oleh generasi strawberry? Atau adakah faktor lain yang membuat fenomena ini lebih sering terhubung dengan mereka?
Decision fatigue merupakan istilah yang diperkenalkan oleh Roy F. Baumeister psikolog sosial asal Amerika Serikat
Decision fatigue terjadii ketika seseorang mengalami tekanan mental dan emosional akibat beban dalam membuat pilihan.
Kondisi ini terjadi karena manusia memiliki kapasitas terbatas dalam mengatur diri sendiri dan mengambil keputusan.
Kapasitas tersebut akan terkuras jika digunakan sepanjang hari, sehingga mengakibatkan kelelahan dalam pengambilan keputusan
Apakah Hanya Generasi Strawberry yang Mengalaminya?
Meskipun decision fatigue lebih sering dikaitkan dengan generasi strawberry, sebenarnya fenomena ini dapat dialami oleh siapa saja.
Semua orang, tanpa memandang usia atau generasi, berpotensi mengalami kelelahan mental jika terus-menerus dihadapkan pada pilihan.
Pilihan sederhana yang terjadi sehari-hari seperti pilihan saat belanja di pasar atau pilihan keputusan saat membersihkan rumah juga bisa menjadi pemicu terjadinya decision fatigue.
Apalagi seseorang yang perfeksionis tentu membutuhkan energi yang banyak untuk memutuskan pilihan agar sesuai dengan apa yang ia harapkan.
Namun sebenarnya, ada beberapa alasan mengapa decision fatigue lebih sering terjadi pada generasi strawberry:
- Lingkungan yang Serba Cepat
Generasi sebelumnya hidup di masa dengan pilihan yang lebih terbatas, sehingga energi mental mereka lebih terfokus pada hal-hal yang penting saja. Berbeda dengan generasi strawberry yang tumbuh dengan kemajuan teknologi sehingga segala informasi bisa didapatkan dengan cepat.
- Pengaruh Teknologi
Akses informasi yang tak terbatas memaksa generasi strawberry untuk selalu "online" dan terus membuat keputusan, baik besar maupun kecil.
Sederhananya seperti pilihan untuk memilih item belanja di marketplace atau memilih tontonan di YouTube untuk menemani makan.
- Perubahan Pola Asuh
Dibandingkan generasi sebelumnya, pola asuh modern cenderung lebih melindungi, sehingga keterampilan pengambilan keputusan tidak selalu diasah sejak dini.
Anak yang tumbuh dari orang tua yang berkecukupan biasanya dididik dengan pola strawberry parenting, pola asuh ini terkenal sangat memanjakan dan melindungi anak.
Sehingga anak tidak terbiasa untuk mengambil keputusan semenjak kecil karena orang tuanya sudah mengatur segala sesuatu untuk kesuksesan anaknya. (*)
Editor : Riana M.