Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Banyak Gen Z Terjebak People Pleaser, Pola Asuh Sejak Kecil Jadi Salah Satu Faktor

Davita Dyah Ayu • Minggu, 8 Desember 2024 | 20:52 WIB
Banyak Gen Z Terjebak People Pleaser (Pinterest)
Banyak Gen Z Terjebak People Pleaser (Pinterest)

Jawa Pos Radar Lawu – Pernah merasa sulit untuk menolak permintaan orang lain? Meski tau jika akan membebani diri sendiri?  

Atau bahkan mengutamakan kebahagiaan orang lain dan melupakan kebutuhan pribadi? Jika iya, itu berarti bisa dikatakan sebagai people pleaser.

Menurut Marissa dari kanal YouTube Greatmind, people pleaser adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan seseorang yang rela mengorbankan kepentingan dan perasaannya sendiri demi membuat orang lain senang. 

Biasanya, mereka merasa bertanggung jawab untuk memastikan orang lain merasa nyaman dan bahagia.

Meskipun pada awalnya terlihat seperti perilaku yang baik, kebiasaan ini justru bisa berdampak negatif. 

Seseorang yang terus-menerus memprioritaskan kebahagiaan orang lain cenderung mengalami tekanan batin, kehilangan jati diri, dan kesulitan memahami kebutuhan pribadinya. 

Fenomena people pleaser semakin banyak dialami oleh generasi muda, terutama Gen Z, yang hidup di era digital. Dimana pengakuan sosial dan validasi eksternal memiliki peran besar dalam membentuk identitas diri.

Banyak Gen Z yang Terjebak People pleaser Kenapa?

1. Didikan yang kaku di masa kecil

Pola asuh yang terlalu kaku dan otoriter di masa kecil dapat memengaruhi perkembangan perilaku seseorang hingga dewasa. 

Anak-anak yang tumbuh di lingkungan di mana perbedaan pendapat tidak dihargai atau ditolak secara keras cenderung belajar untuk "mengalah" demi menghindari konflik. 

Jika orang tua atau pengasuh sering kali tidak menerima penolakan dari anak, anak tersebut akan terbiasa menyembunyikan perasaan aslinya demi menjaga keharmonisan. 

Akibatnya, mereka tumbuh menjadi pribadi yang lebih mementingkan kebahagiaan orang lain daripada kebahagiaan diri sendiri.

2. Terlalu bergantung pada pengakuan sosial 

Gen Z tumbuh di era digital di mana pengakuan sosial diukur melalui jumlah like, comment, dan share di media sosial. 

Pengakuan ini sering kali membuat mereka merasa perlu membangun citra diri yang positif di mata orang lain.

Ketergantungan pada validasi eksternal mendorong mereka untuk selalu tampil baik dan menyenangkan orang lain, baik di dunia nyata maupun dunia maya. 

Mereka menghindari konflik, menghindari perdebatan, dan lebih memilih "mengikuti arus" agar tidak dipandang negatif oleh orang lain.

Tekanan ini tidak hanya muncul dari interaksi langsung, tetapi juga dari ekspektasi sosial yang dibentuk oleh media sosial. 

Gen Z kerap merasa bahwa mereka harus menjadi versi diri yang "sempurna" di hadapan orang lain, sehingga mengesampingkan kebutuhan dan keinginan pribadi.

3. Merasa kurang percaya diri

Kepercayaan diri yang rendah membuat seseorang lebih rentan menjadi people pleaser. Ketika seseorang merasa tidak cukup baik, mereka cenderung mencari validasi dari orang lain. 

Salah satu cara mendapatkan validasi ini adalah dengan menyenangkan orang lain, berharap mendapatkan pujian atau pengakuan.

Sayangnya, perilaku ini justru menciptakan lingkaran yang sulit diputus. Ketika people pleaser merasa dihargai hanya jika mereka menyenangkan orang lain, harga diri mereka akan terus bergantung pada pandangan orang lain. 

Akibatnya, mereka semakin kehilangan kepercayaan diri karena terus-menerus mengukur nilai diri mereka dari sudut pandang orang lain.

Menjadi people pleaser mungkin tampak seperti perilaku yang terpuji, tetapi jika dibiarkan terus-menerus, perilaku ini bisa berdampak buruk pada kesehatan mental, kesejahteraan, dan kualitas hidup seseorang.

Menyadari tanda-tanda perilaku ini dan mulai menetapkan batasan adalah langkah awal menuju kehidupan yang lebih seimbang dan sehat. (*)

Editor : Riana M.
#people pleaser #prioritas #fenomena #orang lain #generasi muda #Tidak enakan #Gen Z #era digital #generasi z