Jawa Pos Radar Lawu - Kenapa Gen Z cepat sekali meninggalkan pekerjaan? Padahal pekerjaan itu tidak mudah didapatkan.
Inilah salah satu dampak dari switching culture. Begitu kiranya ungkapan Prof Rhenald Kasali dalam video yang di unggah di akun Instagram pribadinya @rhenald.kasali.
Fenomena Switcinh Culture ini membuat Gen Z yang sering dilabeli dengan “Generasi yang susah dapat kerja” akan dengan dengan mudah melepaskan pekerjaannya, padahal dirinya baru saja mendapatkan pekerjaan ini.
Tidak hanya terlihat dalam pola konsumsi sehari-hari, tetapi fenomena switching culture ini juga merambah hingga ke dunia kerja. Apa yang sebenarnya memicu perilaku ini?
Switching Culture : Dampak Terlalu Banyak Pilihan
Salah satu faktor penyebab switching culture di kalangan Gen Z adalah banyaknya pilihan yang tersedia.
Barry Schwartz, dalam bukunya Paradox of Choice, menjelaskan bahwa terlalu banyak pilihan justru dapat membingungkan seseorang dan membuat keputusan terasa lebih sulit.
Misalnya dalam dunia kerja, Gen Z merasa tidak lagi harus bertahan di satu perusahaan seperti generasi sebelumnya. Begitu mereka merasa tidak nyaman atau menemukan sesuatu yang dianggap lebih menarik, mereka cenderung langsung berpindah tanpa banyak pertimbangan.
Hal serupa juga terlihat dalam pola konsumsi, seperti fenomena gerai es krim populer yang ramai pada awalnya, tetapi kemudian kehilangan pelanggan dalam waktu singkat karena konsumen beralih ke tren baru.
Impulsif dan Tantangan Mengambil Keputusan
Sifat impulsif dalam pengambilan keputusan juga jadi salah satu penyebab munculnya Budaya switching ini. Apalagi Gen Z yang cenderung mengambil keputusan secara cepat tanpa mempertimbangkan efek jangka panjangnya.
Bukan hanya Gen Z, namun fenomena ini turut menjadi tantangan bagi generasi lain yang mulai terpengaruh oleh pola ini.
Keputusan yang diambil secara impulsif sering kali berujung pada ketidakpuasan dan siklus berpindah-pindah yang terus berulang.
Rhenald Kasali : Ini PR untuk Masa Depan
Melalui videonya, Rhenald Kasali menyebutkan bahwa ini adalah salah satu PR bagi semua pihak, terutama bagi para orang tua dan perusahaan.
Bagi orang tua, anak-anak perlu diajarkan untuk memahami proses pengambilan keputusan yang baik dan tidak terburu-buru.
Sementara bagi perusahaan, penting bagi mereka untuk turut memahami karakteristik dari setiap generasi dengan menciptakan lingkungan kerja yang lebih inklusif dan menarik sehingga mampu mempertahankan terutama talenta muda lebih lama. (*)
Editor : Riana M.