Jawa Pos Radar Lawu - Generasi Z atau mereka yang lahir di tahun 1997-2012 seringkali menjadi sorotan karena budaya hidupnya yang serba cepat dan cenderung enggan berkomitmen. Perilaku mereka salah satunya dipengaruhi oleh budaya on-demand culture dan switching culture.
On-demand culture dan switching culture, dua fenomena yang menjadi refleksi bagaimana teknologi membentuk ekspektasi dan gaya hidup mereka, baik sebagai konsumen maupun tenaga kerja.
Prof Rhenald Kasali, Guru Besar Universitas Indonesia (UI) menyatakan bahwa generasi muda saat ini rentan mengalami budaya on-demand culture dan switching culture ini, apalagi sekarang teknologi dan gaya hidup orang semakin berubah.
On-Demand Culture : Buat Segalanya Jadi Cepat, Praktis, dan Spesifik
On-demand culture adalah budaya yang menyebabkan individu menginginkan kebutuhan mereka terpenuhi secara langsung, kapan saja, di mana saja.
Apalagi para Gen Z, yang tumbuh di era digital native bersama dengan perkembangan teknologi seperti Spotify, Netflix, dan aplikasi layanan transportasi, sangat terbiasa dengan layanan yang cepat dan personal.
Budaya ini muncul karena ada nya teknologi yang memungkinkan pelaku usaha yang melakukan Data Capture membaca perilaku konsumen nya.
On-demand culture menawarkan konsep kepraktisan dan kemampuan untuk menyediakan solusi yang tepat waktu berdasarkan data dan algoritma.
Sebagai contoh, Spotify tidak hanya menawarkan akses ke musik, tetapi juga memberikan rekomendasi yang sangat sesuai dengan preferensi pengguna, bahkan sebelum mereka menyadari apa yang mereka inginkan.
Switching Culture : Banyak Pilihan, Loyalitas Rendah
Sementara on-demand culture berbicara tentang kecepatan dan ketersediaan, switching culture merefleksikan kecenderungan seseorang untuk berpindah dari satu layanan, produk, atau pekerjaan ke yang lain.
Gen Z yang sering mendapatkan pandangan memiliki komitmen rendah sering kali tidak terikat pada satu merek atau komitmen jangka panjang, terutama jika mereka merasa ada opsi lain yang lebih sesuai dengan kebutuhan atau ekspektasi mereka.
Seperti dalam dunia kerja misalnya, Gen Z dikenal sebagai generasi yang sering berpindah pekerjaan bahkan hanya dalam hitungan bulan jika merasa lingkungan kerja tidak mendukung perkembangan pribadi mereka, mereka akan langsung meninggalkannya.
Tidak peduli seberapa keras mereka mendapatkannya, namun apabila mereka merasa lingkungan kerjanya tidak cocok, mereka akan memutuskan untuk mencari pekerjaan lain. Dalam budaya konsumsi misalnya, mereka akan dengan cepat beralih ke produk baru yang dianggap lebih menarik.
Perbedaan On-Demand Culture dan Switching Culture
On-demand culture mengacu pada budaya Gen Z yang lebih mengutamakan kecepatan dan kenyamanan dalam memenuhi kebutuhan mereka.
Di sisi lain, switching culture menggambarkan kebiasaan Gen Z yang mudah berpindah dari satu produk, layanan, atau pekerjaan ke lainnya dengan mudah, yang menurut mereka lebih sesuai dengan apa yang diinginkannya. (*)
Editor : Riana M.