Jawa Pos Radar Lawu – Istilah jam koma akhir-akhir ini semakin sering terdengar di kalangan generasi Z, mengundang perhatian publik di media sosial. Sebenarnya apa sih yang dimaksud Jam Koma?
Jam koma merupakan istilah yang digunakan oleh Gen Z untuk menggambarkan kondisi kurang fokus dan kelelahan tubuh yang tidak sinkron dengan otak.
Pada saat mengalami jam koma, banyak hal yang tidak disadari apa yang telah dilakukan.
Istilah ini merujuk pada kondisi di mana seseorang merasa sangat lelah hingga mengabaikan aktivitas sehari-hari, seperti berbelanja, atau bahkan melupakan barang yang dibeli.
Jam Koma tidak sekadar menjadi lelucon di media sosial; ia juga mencerminkan realitas hidup Gen Z yang sering kali merasa kewalahan dengan tuntutan sehari-hari.
Ciri atau Contoh Perilaku Jam Koma
Beberapa tanda ketika seseorang mengalami jam koma. Pertama, saat mengobrol pandangan mata yang terlihat kosong dan tidak fokus. Ini adalah tanda bahwa otaknya sedang mengalami overload atau kelelahan mental.
Kedua, saat berbalas pesan sering typo. Meskipun typo memang hal yang biasa, namun jika terjadi secara drastis, ini perlu diperhatikan.
Ketiga, jam koma juga bisa menyebabkan seseorang typo saat berbicara. Jika seseorang sering salah dalam menyampaikan kalimat, itu menandakan otak mereka sudah overwhelmed.
Keempat, tidak nyambung saat diajak ngobrol. Saat "jam koma", kita jadi susah ngikutin alur pembicaraan. Pertanyaan tentang bola bisa dijawab dengan topik yang enggak nyambung.
Ini menjadi puncak dari jam koma adalah melamun tanpa memikirkan apa-apa. Dalam keadaan melamun, otak kita seperti komputer yang sedang 'hang', sehingga tidak dapat memproses informasi dengan baik.
Istilah Jam Koma tidak sekadar menjadi lelucon di media sosial; tapi juga mencerminkan realitas hidup Gen Z yang sering kali merasa kewalahan dengan tuntutan sehari-hari.
Dengan demikian, fenomena Jam Koma bukan hanya sekadar istilah viral, tetapi refleksi dari tantangan yang dihadapi oleh Gen Z dalam mengelola keseharian mereka.
Fenomena jam koma mengajak kita untuk lebih memperhatikan pentingnya waktu istirahat dan keseimbangan antara produktivitas dan kesehatan mental. (davita-mg-iain/kid)
Editor : Nur Wachid