Jawa Pos Radar Lawu - Sinden Gaib menjadi salah satu film horor yang paling diburu sejak dirilis perdana 22 Februari lalu. Sinden Gaib menceritakan kisah nyata dari Kabupaten Trenggalek.
Film Sinden Gaib merupakan salah satu karya visual yang berhasil memadukan seni, budaya dan horor dalam satu wadah. Meski tidak banyak jumpscare, namun sangat kental akan keseniannya.
Menariknya dengan menonton film Sinden Gaib, penonton dapat belajar seni dan budaya dari Trenggalek yaitu kesenian jaranan atau kesenian kuda lumping.
Bagi orang yang mengerti atau sekedar mengetahui kesenian jaranan ini akan langsung paham, bahwa kesimpulan dari seluruh rentetan alur cerita yang dikemas dalam bentuk horor ini merupakan film yang menjelaskan tentang kesenian jaranan itu sendiri.
Namun, kemungkinan besar penonton akan menyadari hal ini ketika berada di menit-menit terakhir saat di mana Mbah Di, sesepuh desa mengatakan solusi akhir dari peristiwa yang dialami Ayu dan kawan kawan adalah dengan mengadakan upacara turangga yaksa.
Dijelaskan dalam Sinden Gaib, bahwa upacara turangga yaksa merupakan upacara yang bertujuan untuk menarik perhatian roh dari alam ghaib yang berhasil keluar dari pintu jagad alam gaib dan mengumpulkannya, untuk selanjutnya dikembalikan ke asalnya.
Upacara turangga yaksa dalam film dilakukan dengan mengadakan pagelaran seni jaranan atau kuda lumping di lingkup satu lingkungan saja.
Kenyataannya, turangga yaksa ini merupakan kesenian jaran lumping yang cukup terkenal dari Trenggalek.
Turangga yaksa ini merupakan tunggangan para penari jaranan yang berwujud buto, yaitu raksasa besar yang wajahnya biasanya berwarna merah atau hitam dan dibentuk memanjang sehingga sekilas berbentuk seperti kuda.
Dalam film, turangga yaksa ini digambarkan dengan sosok yang besar dan hitam legam dengan mata merah menyala.
Raksasa ini merupakan penunggu jagad alam ghaib yang sengaja keluar karena seseorang mengabil barang dari alamnya.
Turangga yaksa dalam film sinden ghaib ini hampir digambarkan dengan sosok mirip kingkong raksasa berwarna hitam.
Cerita ini menjadi horor setelah Ayu berulang kali kesurupan arwah Mbah Sarinten yang merupakan sinden penunggu watu kandang, yang diakbatkan oleh ulah jahil dari Abidin yang mengambil batu dari watu kandang.
Watu kandang sendiri diceritakan merupakan watu lintang yang mana didalam jagad alam ghaib sanagat diakitkan dengan ilmu tidak kasat mata.
Namun meski dari sisi horornya dirasa kurang, film ini tetap diminati hingga akhir bulan februari 2024 ini. Karena cukup unik dan memberikan kesan yang berbeda.
Film Sinden Gaib juga menjadi sangat menarik karena beberapa penonton ada yang sampai kesurupan saat menonton film atau bahkan mengalahi hal-hal diluar akal sehabis menonton.
Apakah ini merupakan kutukan dari film Sinden Gaib? atau merupakan keberhasilan sang sutradara dalam menarik sugesti penonton sehingga memberikan kesan menakutkan yang tidak terlupakan. (riz/kid)
Editor : Nur Wachid