Punya Nama Ambon, Mengapa Bika Ini Justru Terkenal dari Medan?

Tim Content Writer Radar Lawu • Dipublikasikan Senin, 12 Oktober 2026 | 13:30 WIB
Ilustrasi Sejarah Bika Ambon Khas Medan @Pinterest
Ilustrasi Sejarah Bika Ambon Khas Medan @Pinterest

Jawa Pos Radar Lawu - Nama makanan terkadang membuat orang keliru menebak daerah asalnya.

Salah satu contohnya adalah bika ambon, kue berwarna kuning dengan tekstur berongga menyerupai sarang lebah.

Meski menyandang nama Ambon, kue ini justru dikenal sebagai salah satu kuliner khas Medan, Sumatera Utara.

Bika ambon memiliki tekstur lembut, kenyal, dan sedikit berserat saat dipotong.

Perpaduan rasa manis dan gurih santan serta aromanya yang khas membuat kue ini cocok dinikmati bersama teh atau kopi.

Tak heran jika bika ambon kerap menjadi pilihan oleh-oleh bagi wisatawan.

Di balik popularitasnya, terdapat sejumlah cerita mengenai asal-usul bika ambon.

Mulai dari kaitannya dengan kue tradisional Melayu hingga berbagai versi tentang penamaannya, makanan ini memiliki perjalanan menarik dalam perkembangan kuliner Indonesia.

Baca Juga: Resep Bika Ambon Rumahan, Kenyal Bersarang dengan Aroma Harum yang Menggugah Selera

Berawal dari Kue Bika atau Bingka

Sejumlah cerita sejarah mengaitkan bika ambon dengan bika atau bingka, kue tradisional yang dikenal dalam budaya Melayu.

Dalam perkembangannya, bahan dan teknik pembuatannya mengalami perubahan hingga menghasilkan karakter khas seperti yang dikenal sekarang.

Bika ambon umumnya dibuat dari tepung tapioka, telur, gula, dan santan.

Beberapa resep juga menggunakan ragi atau bahan fermentasi lainnya untuk membantu membentuk tekstur berongga.

Proses pengolahan menjadi faktor penting dalam menghasilkan kue dengan pori-pori memanjang.

Rongga tersebut membentuk pola menyerupai sarang lebah yang menjadi ciri khas bika ambon.

Selain teksturnya yang unik, perpaduan rasa manis dan gurih membuat kue ini berbeda dari kebanyakan jajanan tradisional lainnya.

Mengapa Disebut Bika Ambon?

Asal-usul nama bika ambon memiliki beberapa versi yang berkembang di masyarakat.

Hingga kini, belum ada satu penjelasan yang dapat dipastikan sebagai satu-satunya sumber penamaan tersebut.

Salah satu cerita menyebutkan bahwa nama bika ambon berkaitan dengan Jalan Ambon di Medan.

Konon, kue ini pernah dijual dan dikenal masyarakat di kawasan tersebut hingga nama tempatnya melekat pada makanan yang diperdagangkan.

Versi lain menghubungkan penamaannya dengan perantau dari Ambon yang dipercaya membawa atau memperkenalkan kue tersebut ke Medan.

Ada pula cerita lain yang mengaitkan namanya dengan kawasan Amplas.

Namun, berbagai kisah itu belum cukup untuk memastikan asal-usul nama bika ambon secara mutlak.

Karena itu, nama tersebut tidak bisa langsung dijadikan bukti bahwa kue ini berasal dari Kota Ambon, Maluku.

Jalan Majapahit Jadi Sentra Penjualan

Dalam perkembangannya, kawasan Jalan Majapahit di Medan dikenal sebagai salah satu sentra penjualan bika ambon. Berbagai toko menawarkan kue ini dalam beragam ukuran dan pilihan rasa.

Keberadaan sentra tersebut turut memperkuat posisi bika ambon sebagai oleh-oleh khas Medan.

Wisatawan dapat membelinya untuk dibawa pulang, sedangkan masyarakat setempat kerap menyajikannya sebagai camilan atau hidangan untuk tamu.

Proses pembuatan bika ambon memerlukan perhatian terhadap komposisi bahan, fermentasi apabila digunakan, serta suhu dan waktu pemanggangan.

Tahapan tersebut memengaruhi aroma, kelembutan, dan pembentukan rongga pada bagian dalam kue.

Perbedaan teknik pengolahan membuat hasil buatan setiap produsen tidak selalu sama.

Ada bika ambon yang memiliki rongga lebih besar, tekstur lebih lembut, atau aroma pandan yang lebih kuat.

Baca Juga: Dari Hutan Mentaok hingga Jadi Ikon Kuliner, Begini Sejarah Gudeg Yogyakarta

Hadir dalam Berbagai Varian Rasa

Bika ambon tradisional umumnya memiliki warna kuning dengan aroma harum yang khas.

Namun, mengikuti perkembangan selera konsumen, kue ini kini tersedia dalam berbagai pilihan rasa.

Varian pandan menjadi salah satu pilihan yang mudah ditemukan.

Selain itu, ada pula bika ambon rasa keju, cokelat, dan durian yang menawarkan sensasi berbeda.

Meskipun pilihan rasanya semakin beragam, tekstur berongga tetap menjadi ciri utama yang membuat bika ambon mudah dikenali.

Bagian dalamnya juga menjadi salah satu penanda keberhasilan proses pengolahan.

Perkembangan varian tersebut memperlihatkan bagaimana kuliner tradisional dapat menyesuaikan diri dengan selera pasar tanpa sepenuhnya meninggalkan karakter aslinya.

Menjadi Ikon Kuliner Medan

Bika ambon kini dikenal luas sebagai salah satu makanan khas Medan yang banyak dicari wisatawan ketika berkunjung ke Sumatera Utara.

Popularitasnya tidak hanya berasal dari cita rasa, tetapi juga bentuknya yang khas dan cerita di balik namanya.

Banyak orang awalnya mengira kue ini berasal dari Ambon, padahal bika ambon justru lekat dengan identitas kuliner Medan.

Perkembangan usaha penjualan, variasi rasa, dan kebiasaan menjadikannya buah tangan turut membuat kue ini tetap dikenal hingga sekarang.

Bika ambon pun menjadi salah satu pilihan camilan tradisional yang mudah ditemukan di berbagai toko oleh-oleh di Medan.

(Iis Choirrunisa, Magang Politeknik Negeri Madiun)

Editor : Tim Content Writer Radar Lawu
Sumber : RRI, berbagai sumber
Sejarah Bika Ambon kuliner bika ambon medan kue tradisional