Ada Jejak Akulturasi di Semangkuk Soto Betawi, Begini Kisahnya

Tim Content Writer Radar Lawu • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 14:25 WIB
Ilustrasi SejarahSoto Betawi Khas Jakarta @Pinterest
Ilustrasi SejarahSoto Betawi Khas Jakarta @Pinterest

Jawa Pos Radar Lawu - Semangkuk soto Betawi mudah dikenali dari kuahnya yang gurih dan kental.

Potongan daging sapi serta jeroan berpadu dengan rempah, santan, atau susu sehingga menghasilkan cita rasa yang berbeda dari berbagai jenis soto lainnya.

Di balik rasanya yang khas, soto Betawi menyimpan perjalanan sejarah yang cukup panjang.

Hidangan ini tumbuh di Jakarta yang sejak dahulu menjadi tempat bertemunya berbagai kelompok masyarakat dan kebudayaan, sekaligus menjadi bagian dari perkembangan kuliner khas Betawi.

Soto Betawi juga telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia untuk Provinsi DKI Jakarta.

Keberadaannya tidak hanya memperkaya kuliner khas Jakarta, tetapi juga menjadi bagian dari identitas masyarakat Betawi.

Baca Juga: Dari Pulau Garam hingga Berbagai Kota, Begini Perjalanan Sate Madura

Jejak Soto di Batavia

Sejarah soto Betawi tidak dapat dilepaskan dari perkembangan Batavia, nama Jakarta pada masa lalu.

Wilayah tersebut menjadi tempat bertemunya masyarakat dari berbagai latar belakang, baik penduduk lokal maupun pendatang.

Pertemuan berbagai kelompok tersebut turut memengaruhi perkembangan makanan di Batavia.

Soto kemudian mengalami perubahan dari segi bahan, bumbu, dan cara penyajian hingga muncul beragam jenis yang berkembang di berbagai daerah.

Salah satu pengaruh yang sering dikaitkan dengan perkembangan soto di Batavia berasal dari masyarakat Tionghoa.

Hidangan berkuah yang dikenal dengan istilah caudo kemudian mengalami penyesuaian ketika berinteraksi dengan masyarakat lokal.

Dari proses tersebut, sajian berkuah berkembang mengikuti bahan yang tersedia dan selera masyarakat di masing-masing wilayah.

Nama Soto Betawi Muncul Belakangan

Menariknya, makanan yang kini dikenal sebagai soto Betawi ternyata telah ada sebelum nama tersebut digunakan secara luas.

Istilah “Soto Betawi” mulai dikenal sekitar akhir 1970-an. Nama tersebut kemudian melekat pada sajian soto yang dijual di kawasan Jakarta dan menjadi pembeda dari jenis soto lainnya.

Sosok Lie Boen Po dikenal dalam perjalanan penggunaan nama tersebut.

Ia merupakan salah satu pedagang soto yang berjualan di kawasan THR Lokasari atau yang dahulu dikenal sebagai Prinsen Park.

Sebelum istilah Soto Betawi semakin populer, pedagang soto memiliki cara masing-masing dalam memberikan nama pada dagangannya.

Penggunaan nama berdasarkan daerah kemudian membuat sajian tersebut semakin mudah dikenali.

Kuah Gurih Menjadi Ciri Khas

Salah satu karakter yang membuat soto Betawi berbeda terletak pada kuahnya.

Santan sering digunakan sebagai bahan dasar untuk menghasilkan rasa gurih dan tekstur yang lebih kental.

Pada beberapa variasi, susu juga digunakan dalam kuah. Perpaduan tersebut menghasilkan rasa yang lembut dan gurih ketika berpadu dengan rempah serta potongan daging.

Isian soto Betawi pun cukup beragam. Daging sapi menjadi salah satu bahan utama, sedangkan jeroan seperti babat, paru, dan kikil dapat ditambahkan sesuai jenis sajian.

Semangkuk soto biasanya dilengkapi dengan tomat, daun bawang, bawang goreng, emping, serta sambal. Perpaduan bahan tersebut membuat cita rasa soto Betawi semakin kompleks.

Baca Juga: Sekeping Brem Menyimpan Cerita, Begini Perjalanan Kuliner Khas Madiun

Dari Pedagang hingga Kuliner Ikonik Jakarta

Perjalanan soto Betawi terus berkembang seiring perubahan Jakarta. Sajian yang dahulu banyak dijual oleh pedagang kemudian semakin mudah ditemukan di warung makan, rumah makan, hingga restoran.

Penyajiannya pun dapat mengalami penyesuaian. Namun, karakter utama berupa kuah gurih, daging, jeroan, serta penggunaan rempah masih menjadi bagian yang melekat pada sajian ini.

Sejarah soto Betawi juga menunjukkan bagaimana makanan dapat berkembang melalui pertemuan berbagai budaya.

Pengaruh yang datang dari luar kemudian berbaur dengan bahan dan selera masyarakat lokal.

Kini, soto Betawi bukan hanya sekadar makanan berkuah yang mengenyangkan.

Hidangan tersebut telah menjadi salah satu kuliner khas Jakarta yang membawa cerita tentang perkembangan kota dan masyarakatnya dari masa ke masa.

Semangkuk soto Betawi akhirnya tidak hanya menawarkan rasa gurih dan kaya rempah.

Di baliknya terdapat perjalanan panjang yang membuat hidangan ini tetap dikenal hingga sekarang.

(Iis Choirrunisa, Magang Politeknik Negeri Madiun)

Editor : Tim Content Writer Radar Lawu
Sumber : RRI, Antara, berbagai sumber
Soto Betawi Sejarah Soto Betawi Makanan Khas Jakarta kuliner jakarta