Sekeping Brem Menyimpan Cerita, Begini Perjalanan Kuliner Khas Madiun

Tim Content Writer Radar Lawu • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 10:45 WIB
Ilustrasi Sejarah Brem Asal Madiun @Pinterest
Ilustrasi Sejarah Brem Asal Madiun @Pinterest

Jawa Pos Radar Lawu - Bentuknya sederhana, tetapi brem memiliki sensasi yang mudah dikenali.

Camilan berwarna putih hingga kekuningan ini terasa manis dan sedikit asam, kemudian perlahan meleleh ketika masuk ke dalam mulut.

Di balik karakter tersebut, brem menyimpan perjalanan panjang yang membuatnya lekat dengan Kabupaten Madiun.

Desa Bancong dan Desa Kaliabu dikenal sebagai wilayah yang sejak lama menjadi sentra pembuatan brem.

Brem Madiun bahkan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Indonesia.

Keberadaannya tidak hanya menjadi bagian dari kuliner khas daerah, tetapi juga berkaitan dengan tradisi masyarakat yang terus dipertahankan.

Selain memiliki sejarah yang panjang, resep brem juga menarik untuk diketahui karena proses pembuatannya menggunakan bahan utama beras ketan yang melalui tahapan fermentasi sebelum diolah menjadi camilan khas Madiun.

Baca Juga: Bukan Sekadar Rujak, Ini Jejak Panjang Cingur yang Jadi Identitas Kuliner Surabaya

Berasal dari Bancong dan Kaliabu

Brem padat dikenal sebagai makanan tradisional yang berasal dari wilayah Madiun.

Desa Bancong di Kecamatan Wonoasri dan Desa Kaliabu di Kecamatan Caruban menjadi dua wilayah yang dikenal sebagai sentra penghasil brem sejak masa lalu.

Produksi brem di kedua desa tersebut dilakukan secara turun-temurun.

Para perajin mempertahankan proses pembuatan yang membutuhkan ketelatenan, terutama dalam mengolah bahan dasar ketan hingga menjadi produk yang siap dikonsumsi.

Keberadaan sentra tersebut membuat brem tidak hanya menjadi makanan rumahan.

Seiring waktu, brem berkembang menjadi produk kuliner yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat setempat.

Dibuat dari Beras Ketan yang Difermentasi

Bahan utama brem adalah beras ketan. Namun, bahan tersebut tidak langsung diolah menjadi camilan berbentuk padat seperti yang biasa ditemukan di toko oleh-oleh.

Ketan terlebih dahulu dimasak dan melalui proses fermentasi hingga menghasilkan tape.

Setelah itu, sari dari hasil fermentasi dipisahkan untuk kemudian diolah kembali melalui beberapa tahapan.

Dalam resep pembuatan brem, proses tersebut membutuhkan waktu dan ketelitian.

Adonan yang telah melalui tahapan pengolahan kemudian dicetak hingga menghasilkan bentuk brem yang dikenal masyarakat.

Fermentasi menjadi bagian penting karena proses tersebut turut menghasilkan karakter rasa khas brem.

Dari bahan sederhana berupa ketan, tercipta camilan dengan rasa manis sedikit asam serta tekstur yang mudah hancur dan meleleh ketika disantap.

Baca Juga: Sepiring Pecel Madiun Punya Cerita Panjang, dari Tradisi Mataraman hingga Kini

Sempat Dianggap sebagai Makanan Mewah

Brem juga memiliki cerita menarik mengenai keberadaannya pada masa lalu.

Pada masa kekuasaan Belanda, brem pernah dianggap sebagai makanan mewah bagi sebagian masyarakat desa.

Kondisi tersebut berbeda dengan keberadaan brem saat ini.

Brem justru semakin dikenal sebagai salah satu oleh-oleh khas Madiun yang mudah ditemukan di berbagai toko.

Perubahan tersebut memperlihatkan perjalanan panjang sebuah makanan tradisional.

Dari produk yang dibuat secara terbatas, brem berkembang menjadi kuliner yang memiliki nilai ekonomi sekaligus menjadi bagian dari identitas daerah.

Dari Makanan Tradisional Menjadi Identitas Madiun

Perjalanan brem tidak hanya berkaitan dengan rasa dan resep pembuatannya.

Industri rumahan yang terus mempertahankan produksi secara turun-temurun turut membuat makanan ini semakin melekat dengan Madiun.

Desa Kaliabu dan Bancong hingga kini dikenal sebagai wilayah penghasil brem.

Produk yang dibuat para perajin juga tidak hanya dinikmati masyarakat sekitar, tetapi telah dipasarkan ke berbagai daerah di luar Madiun.

Bagi masyarakat yang berkunjung ke Madiun, brem kemudian menjadi salah satu pilihan oleh-oleh yang banyak dibawa pulang.

Kemasan yang praktis membuatnya mudah dibawa sekaligus memperkenalkan cita rasa khas daerah kepada masyarakat dari luar kota.

Brem bukan hanya sekadar camilan tradisional. Makanan tersebut telah menjadi bagian dari cerita kuliner Madiun dan identitas daerah yang terus bertahan di tengah perkembangan zaman.

Rasa manis sedikit asam serta sensasi meleleh di mulut menjadi ciri khas yang membuat brem tetap mudah dikenali hingga sekarang.

(Iis Choirrunisa, Magang Politeknik Negeri Madiun)

Editor : Tim Content Writer Radar Lawu
Sumber : budaya indonesia, berbagai sumber
sejarah brem kuliner Madiun resep Brem