Jawa Pos Radar Lawu - Bagi pencinta kuliner Jepang, ramen, udon, dan soba tentu sudah jadi hidangan yang akrab di telinga.
Sekilas tampak serupa, namun kenyataannya ketiga jenis mie Jepang ini memiliki karakteristik yang sangat berbeda.
Mulai dari bahan dasar tepung, tingkat elastisitas, hingga cara penyajiannya.
Menurut Chef Masano Takeda dari restoran ZUNDO-YA, faktor pembeda paling penting justru terletak pada kandungan gluten dari tepung yang digunakan.
Perbedaan dari Bahan dan Jenis Tepung
Chef Masano menjelaskan bahwa setiap jenis mie memiliki struktur adonan yang berbeda:
-
Ramen menggunakan tepung dengan kandungan gluten tinggi, menghasilkan tekstur elastis dan mudah dibentuk.
-
Udon membutuhkan adonan lebih kuat karena mie-nya tebal dan kenyal.
-
Soba dibuat dari tepung soba (buckwheat) yang bebas gluten, sehingga teksturnya lebih lembut dengan aroma khas.
Ramen lebih mudah dibuat karena gluten. Untuk udon, adonannya harus lebih kuat agar teksturnya kokoh. Sementara soba menggunakan tepung yang tidak mengandung gluten.
Topping Chashu dan Teknik Memasak
Selain tepung, topping daging atau chashu, juga membedakan karakter sajian mie Jepang.
Chef Masano menekankan bahwa kelembutan chashu hanya bisa didapat melalui teknik slow cooking pada suhu rendah.
Untuk daging paha ayam misalnya, proses memasaknya idealnya membutuhkan waktu sekitar 3 jam dengan api kecil.
Kalau api besar, memasaknya memang lebih cepat, tapi teksturnya bisa hancur.
Kuah Kaldu: Komponen Terpenting dalam Mie Jepang
Baik ramen, udon, maupun soba, semuanya tetap mengandalkan kekuatan kuah kaldu sebagai sumber rasa utama.
Chef Masano menjelaskan bahwa kuah ramen di Jepang cenderung lebih asin dan lebih kuat.
Namun, restoran Jepang di Indonesia biasanya menyesuaikan tingkat keasinan agar lebih cocok dengan lidah lokal.
Inilah perbedaan bahan dasar kaldu di kedua negara:
-
Di Jepang, ramen umumnya memakai tulang babi sebagai dasar kuah.
-
Di Indonesia, sebagian besar restoran menggunakan tulang ayam.
“Jenis hewannya saja sudah berbeda, jadi tentu rasa kaldu ramennya juga akan berbeda,” ujar Umaba.
Ia menambahkan bahwa membuat ramen otentik di rumah cukup menantang karena membutuhkan banyak tulang untuk menghasilkan kuah yang kaya rasa.
Dengan segala perbedaan bahan, teknik, hingga kuah kaldunya, tidak heran jika ramen, udon, dan soba menghadirkan pengalaman makan yang unik satu sama lain.
Pencinta kuliner Jepang bisa memilih sesuai selera.
Apakah ingin yang gurih kuat, kenyal lembut, atau beraroma khas. (fin)
Editor : AA Arsyadani