Jawa Pos Radar Lawu - Pandemi COVID-19 menjadi masa sulit bagi banyak orang, termasuk Daniel, seorang chef berbakat yang harus menerima kenyataan pahit ketika dirumahkan dari pekerjaannya.
Alih-alih menyerah, Daniel memutuskan untuk bangkit dan menciptakan peluang baru dari keterbatasan yang ada.
Dengan modal hanya Rp150 ribu, ia mulai membuat dessert rumahan dan menamai usahanya Elflavour.
Dukungan dari keahlian memasaknya membuat Daniel percaya diri mengembangkan produk-produk dessert berkualitas.
Pada awalnya, Elflavour hanya melayani pesanan pre-order serta memasok kafe lokal dalam jumlah kecil.
“Di tahun 2020, kami sempat gabung di coffee shop, tapi gak bertahan lama. Akhirnya tahun 2021 kami nekat buka lapak sendiri, jualan di kontainer,” cerita Daniel.
Perjalanan tersebut bukannya tanpa hambatan.
Setelah setahun berjalan, usaha itu harus berhenti beroperasi.
Bagi Daniel, pengalaman tersebut bukan kegagalan, melainkan pelajaran penting dalam membangun fondasi usaha yang lebih kuat.
Setelah menutup bisnisnya, Daniel memutuskan pergi ke Bali untuk belajar kembali mengenai dunia kuliner dan manajemen bisnis.
“Setelah vakum dari bisnis cookies ini, saya kabur ke Bali. Di sana saya belajar lagi dan akhirnya memulai semuanya dari awal di tahun 2024,” ujarnya.
Kini, Elflavour kembali hadir dengan konsep lebih matang.
Toko mungil di Jl. Pulo Ribung No. 12, Pekayon Jaya, Bekasi Selatan menjadi tempat bagi para pecinta dessert mencari produk premium dengan rasa khas.
Belajar dari pengalaman sebelumnya, Daniel kini menerapkan strategi pemasaran yang lebih komprehensif.
Ia menggabungkan pemasaran online melalui Instagram dan TikTok, sekaligus memperkuat pemasaran offline melalui komunitas dan pelanggan setia.
Daniel juga bekerja sama dengan KOL mikro agar promosi tetap efisien dan terjangkau.
“Kita masih pakai KOL mikro, reviewer kecil yang baru mulai. Jadi bisa tetap under budget,” jelasnya.
Elflavour pun hadir di berbagai layanan pesan-antar makanan seperti GoFood, GrabFood, dan ShopeeFood.
Meski begitu, Daniel percaya bahwa promosi terbaik tetap berasal dari rekomendasi pelanggan.
Dengan menjaga rasa, konsistensi, dan pelayanan ramah, Elflavour berhasil menciptakan basis pelanggan setia.
Ia bahkan sering memberi bonus sebagai bentuk apresiasi.
“Lebih dari sekadar jualan, saya ingin punya hubungan yang dekat dengan pelanggan. Mereka bagian dari perjalanan Elflavour,” ungkapnya.
Salah satu perubahan besar yang Daniel lakukan adalah memperbaiki manajemen keuangan.
Ia menyadari bahwa masalah finansial dapat merusak bisnis yang sudah bagus dari sisi rasa maupun pemasaran.
“Rasa sudah oke, pemasaran bagus, tapi kalau finance gak beres, semuanya bisa berantakan,” tegasnya.
Kini, Daniel menerapkan pencatatan rapi, pemisahan keuangan pribadi dan bisnis, serta pengelolaan modal yang lebih disiplin.
Kebiasaan inilah yang menjadi fondasi pertumbuhan Elflavour saat ini.
Elflavour kini dikenal dengan dessert premium yang lezat, mulai dari soft cookies dengan 11 varian rasa, slice cake, hingga pastry beraroma mentega.
Setiap produk dibuat dari bahan berkualitas dan bisa disesuaikan dengan preferensi pelanggan.
“Mungkin cookies di tempat lain adonannya sama, tapi kami buat yang unik untuk tiap pelanggan,” jelas Daniel.
Berawal dari modal Rp150 ribu, kini Elflavour mampu menghasilkan omzet bulanan mencapai Rp50–70 juta.
Pencapaian ini merupakan bukti dari ketekunan, keberanian, dan komitmen Daniel untuk terus belajar.
Kisahnya menjadi pengingat bahwa setiap kegagalan adalah jalan menuju keberhasilan.
“Selama kita mau belajar, beradaptasi, dan tidak menyerah… Tuhan akan selalu buka jalan.” (fin)
Editor : AA Arsyadani