Jawa Pos Radar Lawu - Siapa sangka, sambal rumahan dari kampung kecil di Bogor dapat menembus pasar internasional hingga ke Arab Saudi?
Inilah perjalanan inspiratif Sambal BOA Leuwiliang, brand sambal kemasan milik pasangan suami istri Lidia Fuji Rahayu dan sang suami, yang berhasil membawa cita rasa pedas Indonesia ke tingkat global.
Perjalanan bisnis ini dimulai di Leuwimekar, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor.
Tahun 2022 menjadi titik perubahan ketika sang suami mengalami PHK setelah pandemi COVID-19.
Untuk menghibur diri dan keluarganya, Lidia memasak sambal racikan sendiri yang kemudian mendapatkan apresiasi besar dari suaminya.
“Suami saya bilang, sambalnya enak banget! Kenapa nggak dijual aja?” kenang Lidia dilansir dari Temumkm.com (07/02/2025).
Dari komentar itulah muncul ide mendirikan brand Sambal BOA Leuwiliang.
Menariknya, nama BOA memiliki makna khusus, yaitu singkatan dari “Berkah Oleh Allah”.
Nama ini menjadi doa agar usaha mereka berjalan dengan limpahan keberkahan.
Penambahan nama Leuwiliang pun dipilih untuk mengenalkan kampung halaman.
“Saya ingin Leuwiliang dikenal luas. Jadi, kalau sambal saya terkenal, nama daerah saya juga ikut terangkat,” ujar Lidia.
Kelezatan sambal ini kemudian menyebar dengan cepat melalui penjualan online dan sistem reseller.
Tidak hanya laris di berbagai daerah Indonesia, Sambal BOA bahkan berhasil menembus pasar Arab Saudi, termasuk Kota Mekkah.
“Produk kami pernah sampai ke Mekkah melalui reseller. Sekali kirim bisa sampai 200 botol,” ungkap Lidia bangga.
Kini, Sambal BOA Leuwiliang telah mengantongi izin edar DINKES (P-IRT), sertifikasi halal, dan sertifikat Pelatihan Keamanan Pangan DINKES Kabupaten Bogor.
Mereka juga bekerja sama dengan layanan ekspedisi internasional Choir Express untuk mempermudah pengiriman ke luar negeri.
Meskipun merupakan usaha rumahan, kapasitas produksinya sangat besar.
Setiap hari, mereka mampu membuat sekitar 250 botol sambal, sementara pesanan ekspor dapat mencapai hingga 200 botol dalam satu kali pengiriman.
Dari 10 varian rasa yang tersedia, dua di antaranya menjadi paling populer: Sambal Matah Teri Medan dan Sambal Cumi Pete.
Harga jual eceran berkisar Rp18.000–Rp30.000 per botol.
Sementara untuk distributor, harga khusus dimulai dari Rp13.000–Rp15.000 dengan minimal pembelian 50 botol.
Melalui penjualan yang konsisten, omzet bulanan mereka mencapai sekitar Rp10 juta.
Baca Juga: Pemerintah Tegaskan Koperasi Desa Merah Putih Dorong Pemerataan Ekonomi
Kini, Sambal BOA Leuwiliang sudah tersebar di berbagai daerah, mulai dari Bintuni (Papua Barat), Denpasar Utara (Bali), Tangerang, hingga Lowokwaru (Malang).
“Kami dipercaya karena rasanya enak, varian banyak, dan harganya kompetitif,” kata Lidia.
Kisah ini menjadi bukti bahwa produk rumahan memiliki potensi besar untuk menembus pasar global apabila dijalankan dengan kualitas, ketekunan, dan doa.
Dengan filosofi “Berkah Oleh Allah”, Sambal BOA Leuwiliang berhasil membawa nama Leuwiliang sebagai bagian dari peta kuliner Indonesia di kancah dunia. (fin)
Editor : AA Arsyadani